BERITA.NEWS, Sinjai — Di atas kertas, angka kemiskinan di Kabupaten Sinjai disebut terus menurun. Namun di lapangan, pemandangan berbeda justru semakin sering terlihat, bantuan sembako terus mengalir, dan jumlah warga yang menerima bantuan seolah tak pernah berkurang.
Rabu (23/4/2026), pemandangan itu kembali terulang di Kecamatan Sinjai Utara. Sejumlah personel kepolisian dari Polres Sinjai, dipimpin Kasat Reskrim IPTU Dr. Adi Asrul, menyambangi rumah-rumah warga kurang mampu.

Mereka datang bukan untuk penindakan atau penangkapan, melainkan membawa paket sembako.
Sekilas, ini adalah potret kepedulian yang patut diapresiasi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan, jika angka kemiskinan benar menurun, mengapa aksi-aksi bantuan seperti ini justru semakin sering terjadi?
Warga menyambut dengan haru. Bagi mereka, bantuan tersebut adalah jawaban atas kebutuhan sehari-hari yang belum sepenuhnya teratasi.
Senyum yang muncul bukan sekadar rasa terima kasih, tetapi juga gambaran bahwa bantuan seperti ini masih sangat dibutuhkan.
Kapolres Sinjai, AKBP Jamal Fathur Rakhman, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat prasejahtera.
“Bantuan ini adalah wujud kehadiran kami di tengah masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam aksi sosial,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.
Namun di balik aksi sosial yang terus digencarkan, data resmi menunjukkan tren berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Sinjai pada Maret 2025 tercatat sebesar 7,41 persen atau sekitar 18,44 ribu jiwa, turun dari 7,82 persen pada Maret 2024.
Pemerintah daerah pun mengklaim capaian ini sebagai progres positif. Wakil Bupati Sinjai, Andi Mahyanto Mazda, menyebut penurunan tersebut sebagai hasil dari berbagai program penanggulangan kemiskinan yang mulai menunjukkan hasil.
Meski demikian, ia mengakui perlunya langkah yang lebih sistematis dan tepat sasaran.
“Sinkronisasi kebijakan sangat penting agar program tidak tumpang tindih dan benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan,” jelasnya.
Di titik inilah kontras itu terasa nyata. Di satu sisi, angka kemiskinan menurun secara statistik. Di sisi lain, aktivitas bantuan sosial baik oleh pemerintah, aparat, maupun dermawan justru semakin intens.
Fenomena ini memunculkan dua kemungkinan, apakah data belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan, atau justru tingkat kepedulian sosial masyarakat yang meningkat pesat?
Yang jelas, bagi warga penerima bantuan, perdebatan angka bukanlah hal utama. Yang mereka rasakan adalah kebutuhan yang masih ada dan bantuan yang masih sangat berarti.
Di Sinjai, cerita tentang kemiskinan kini tak hanya soal angka yang menurun, tetapi juga tentang realitas di lapangan yang masih membutuhkan perhatian dan tentang semakin banyak tangan yang memilih untuk berbagi di tengah situasi tersebut.
Penulis: Thatang
![]()





























