BERITA.NEWS, Bulukumba — Proyek pembangunan irigasi di Lingkungan Bontorihu, Kelurahan Ballasaraja, Kabupaten Bulukumba, menuai sorotan tajam. Pasalnya, proyek yang dibiayai dana provinsi itu diduga dikerjakan asal-asalan, bahkan kerusakan sudah mulai terlihat meski pekerjaan belum rampung.
Kondisi ini langsung memicu kemarahan para petani setempat. Mereka menilai proyek tersebut tidak hanya mengecewakan, tetapi juga mengancam keberlangsungan musim tanam yang sedang berjalan.

Keluhan warga sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal pengerjaan, sejumlah petani sudah menyuarakan kekhawatiran terkait kualitas pekerjaan. Namun, protes tersebut diduga tak mendapat perhatian serius dari pihak kontraktor.
“Sudah dari awal kami curiga. Sekarang terbukti, belum selesai tapi sudah mulai rusak,” ungkap salah satu petani dengan nada kesal.
Kecurigaan warga semakin menguat setelah adanya pengakuan dari pekerja di lapangan. Salah satu petani bernama Asaf mengungkapkan bahwa terdapat indikasi penggunaan material yang tidak sesuai standar.
“Ada tukang yang bilang, bagian lantai saluran tidak pakai besi. Tidak heran kalau sekarang sudah mulai tergerus. Ini berbahaya, apalagi kita sudah masuk musim tanam,” ujarnya.
Fakta tersebut membuat keresahan petani kian memuncak. Irigasi yang seharusnya menjadi penopang utama pengairan justru berpotensi gagal fungsi. Padahal, saluran ini diketahui mengairi ratusan hektare sawah di dua titik lokasi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas pertanian di wilayah tersebut secara luas.
Warga mengaku telah melaporkan persoalan ini kepada pemerintah setempat. Mereka berharap ada langkah tegas, mulai dari evaluasi hingga perbaikan menyeluruh terhadap proyek tersebut.
Namun hingga kini, belum ada respons konkret yang dirasakan masyarakat. Sikap yang dinilai abai ini justru memperkeruh situasi dan memicu kekecewaan yang semakin dalam.
Di tengah sorotan publik, kontraktor pelaksana pun disinyalir lebih mengedepankan keuntungan dibanding kualitas pekerjaan.
Jika dugaan ini benar, maka proyek bernilai publik tersebut berpotensi menjadi persoalan serius yang merugikan masyarakat, khususnya para petani yang menggantungkan hidup pada kelancaran irigasi.
Penulis: Syarif
![]()





























