Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Daerah

Naoemi Octarina Harap Orangtua dan Kader Posyandu Deteksi Dini Kasus Gizi Buruk dan Stunting

badge-check

					Naoemi Octarina Harap Orangtua dan Kader Posyandu Deteksi Dini Kasus Gizi Buruk dan Stunting Perbesar

BERITA.NEWS, Makassar – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, membuka Lokakarya Persiapan Pelaksanaan LiLA (Lingkar Lengan Atas) Keluarga, yang dilaksanakan secara virtual, Selasa, (5/10/2021).

Lokakarya yang dilaksanakan Jenewa Madani Indonesia ini diikuti tujuh puskesmas dari Kabupaten Pangkep dan Takalar, yang akan dijadikan sebagai pilot project.

Naoemi mengatakan balita merupakan kelompok rentan terhadap kekurangan gizi atau gizi buruk. Mereka membutuhkan nutrisi yang optimal untuk perkembangan dan pertumbuhannya, dan para orangtua harus bisa melakukan deteksi dini.

“Melalui pelaksanaan LiLA keluarga ini, kita berharap para orangtua bisa melakukan deteksi dini. Begitupun dengan para kader Posyandu,” harapnya.

Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sulsel ini menegaskan, persoalan gizi buruk penting untuk ditanggulangi bersama, karena pada balita yang kurang gizi akan mempengaruhi intelektual anak hingga sistem kekebalan tubuh mereka. Selain itu, bisa mengakibatkan infeksi berkepanjangan, bahkan terjadi resiko kematian.

“Kekurangan gizi atau kasus gizi buruk tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan fisik, tetapi juga gangguan mental pada anak,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tak Banyak yang Tahu, Disertasi Ini Bawa Sarianto Raih Doktor UNM

Apabila masalah kekurangan gizi bisa dideteksi lebih awal melalui LiLA, menurut Naoemi, penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Karena itu, lokakarya ini sangat penting. Tujuh puskesmas yang mengikuti lokakarya ini bisa menurunkan ke Posyandu, sekaligus meningkatkan kesadaran para orangtua terhadap kesehatan balita mereka.

“Semoga kegiatan ini bisa berjalan lancar dan tepat sasaran,” harapnya.

Sementara, CFO UNICEF Makassar, Henky Widjaja, mengatakan, anak kekurangan gizi atau gizi buruk memiliki risiko kematian 12 kali lebih tinggi dibandingkan balita yang berstatus gizi normal. Dan pandemi Covid-19 ternyata turut mempengaruhi meningkatnya kasus kekurangan gizi ini.

“Pandemi ini mengakibatkan banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan penghasilan, yang kemudian mempengaruhi kemampuan keluarga terutama yang di kalangan menengah kebawah, untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan serta gizi anaknya,” kata Henky.

Disamping itu, lanjut Henky, pandemi ini telah menyebabkan distorsi layanan kesehatan, sehingga seluruh sumber daya kesehatan diarahkan untuk penanganan pandemi. Sebagian masyarakat juga membatasi akses mereka ke fasilitas kesehatan, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah kasus gizi buruk pada balita dalam dua tahun terakhir.

“Sangat mendesak bagi kita untuk mengambil tindakan cepat dan tepat, untuk memperbaiki serta mencegah peningkatan kasus gizi buruk ini,” tegas Henky.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Cegah Bentrok Meluas, Polsek Lau Damaikan Dua Kelompok Pemuda di Maros

25 April 2026 - 16:25 WITA

Tak Banyak yang Tahu, Disertasi Ini Bawa Sarianto Raih Doktor UNM

24 April 2026 - 21:25 WITA

Sarianto (Kanan) usai sidang promosi doktor di Universitas Negeri Makassar, Jumat 24 April 2026. Foto: Ist.

Sinergi Lingkungan, Polres Maros Tanam Pohon dan Tebar Ribuan Benih Ikan

24 April 2026 - 09:37 WITA

Rutan Masamba Berbenah, Disiplin Pegawai Diperketat Pengamanan Makin Solid

23 April 2026 - 19:45 WITA

SPMB Sulsel 2026, Disdik Berlakukan Jalur Domisili Radius Zona 1 dan 2

23 April 2026 - 17:56 WITA

Trending di Pemprov Sulsel