Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Daerah

Tak Banyak yang Tahu, Disertasi Ini Bawa Sarianto Raih Doktor UNM

badge-check

					Sarianto (Kanan) usai sidang promosi doktor di Universitas Negeri Makassar, Jumat 24 April 2026. Foto: Ist. Perbesar

Sarianto (Kanan) usai sidang promosi doktor di Universitas Negeri Makassar, Jumat 24 April 2026. Foto: Ist.

BERITA.NEWS, Takalar – Tak banyak yang tahu, gelar doktor yang diraih Sarianto berangkat dari sebuah penelitian yang mengulas program pendidikan yang pernah jadi sorotan nasional. Disertasi itu mengungkap sisi yang selama ini jarang terlihat dari pelaksanaannya di sekolah.

Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Makassar ini meneliti Program Guru Penggerak, program yang digagas pada masa Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim.

Dalam penelitiannya, Sarianto tidak hanya melihat dampak program terhadap proses belajar mengajar, tetapi juga mengurai faktor pendukung dan kendala yang dihadapi guru di lapangan.

“Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu mendorong siswa berpikir kritis dan berani berpendapat,” ujar Sarianto.

Namun, di balik temuan tersebut, implementasi program di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah guru menghadapi keterbatasan waktu untuk mengikuti program secara optimal, sementara penguasaan teknologi dan dukungan fasilitas masih menjadi tantangan di beberapa sekolah.

Temuan ini menjadi bagian penting dalam disertasinya. Sarianto mencoba melihat secara utuh, bukan hanya keberhasilan program, tetapi juga realitas yang dihadapi para guru saat menjalankannya.

“Setiap program tentu memiliki kelebihan dan tantangan. Karena itu perlu dievaluasi agar kebijakan ke depan bisa lebih kuat,” katanya.

Di sisi lain, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dukungan pemerintah daerah dan lingkungan sekolah memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan program.

Di sekolah yang mendapat dukungan optimal, implementasi Guru Penggerak dinilai berjalan lebih efektif dan berdampak langsung pada aktivitas belajar siswa.

Hasil riset itu mengantarkan Sarianto meraih gelar doktor dalam sidang promosi yang digelar di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, Makassar, Jumat (24/4/2026).

Ia dinyatakan lulus dengan IPK 3,82 dan predikat cumlaude, sekaligus tercatat sebagai doktor kesembilan pada Program Studi Administrasi Pendidikan Pascasarjana UNM.

Baca Juga :  PT Pegadaian Peduli Bantu Pembangunan Masjid Nurul Yaqin di Jeneponto

Perjalanan Sarianto hingga meraih gelar doktor bukanlah cerita yang singkat. Ia tumbuh di Paririsi, Kabupaten Takalar, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dalam lingkungan sederhana yang membentuk tekadnya sejak dini.

Dari sanalah semuanya dimulai. Dunia pendidikan bukan sekadar pilihan, tetapi panggilan. Saat banyak orang berhenti di satu titik, Sarianto justru terus melangkah. Ia mengajar, belajar, lalu kembali belajar sebuah proses panjang yang dijalaninya tanpa henti.

Sejak diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara pada 2009, ia mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar. Di tengah kesibukan mengajar, ia tetap menyisihkan waktu untuk melanjutkan pendidikan.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Waktu harus dibagi antara tugas, keluarga, dan keinginan untuk terus berkembang.

Namun, tekadnya tidak pernah surut hingga akhirnya ia berhasil meraih gelar magister di Universitas Negeri Makassar pada 2019.

Langkah tersebut menjadi titik balik. Dari ruang kelas di Takalar, ia terus melangkah hingga menembus jenjang doktoral.

Selain aktif di dunia pendidikan, Sarianto juga terlibat dalam berbagai organisasi dan pernah mengemban sejumlah jabatan, mulai dari kepala sekolah, pengawas pendidikan, hingga posisi strategis di lingkup pemerintahan daerah.

Bagi Daeng Romo sapaan akrab Sarianto, gelar doktor yang kini disandang bukanlah akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya, ini menjadi titik awal untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan, khususnya di daerah tempat ia memulai semuanya.

Ia percaya, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar. Dari ruang-ruang kelas sederhana di Takalar, harapan itu tetap bisa tumbuh selama ada kemauan untuk belajar, berbenah, dan tidak berhenti melangkah.

“Capaian ini bukan hanya milik saya, tapi juga untuk semua yang pernah percaya dan mendukung perjalanan ini,” ujarnya.

Di balik toga dan gelar akademik yang kini diraih, tersimpan satu pesan sederhana: bahwa setiap proses, sekecil apa pun, selalu punya arti ketika dijalani dengan ketekunan.

 

Loading

Comments

Baca Lainnya

Sinergi Lingkungan, Polres Maros Tanam Pohon dan Tebar Ribuan Benih Ikan

24 April 2026 - 09:37 WITA

Rutan Masamba Berbenah, Disiplin Pegawai Diperketat Pengamanan Makin Solid

23 April 2026 - 19:45 WITA

PT Pegadaian Peduli Bantu Pembangunan Masjid Nurul Yaqin di Jeneponto

22 April 2026 - 15:26 WITA

Kreativitas Tanpa Batas, Warga Binaan Rutan Barru Hasilkan Mebel dan Jasa Cuci Kendaraan

22 April 2026 - 12:27 WITA

Intip Sosok Iptu Haryanto, Jabat Kasat Reskrim Takalar

21 April 2026 - 22:27 WITA

Serah terima jabatan Iptu Haryanto sebagai kasat Reskrim Polres Takalar. Foto: Ist.
Trending di Daerah