BERITA.NEWS, Beirut – Situasi di Lebanon selatan kembali memanas meski gencatan senjata telah diumumkan. Pasukan Israel dilaporkan masih bertahan di sejumlah wilayah yang mereka kuasai, memicu insiden mematikan yang menewaskan satu tentara cadangan dan melukai sembilan lainnya.
Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (18/4/2026) waktu setempat, ketika sebuah kendaraan militer yang digunakan dalam operasi teknik melindas bahan peledak yang diduga ditanam oleh kelompok Hizbullah. Ledakan itu menghantam rombongan tentara yang tengah bertugas mengamankan alat berat di area tersebut.

Menurut laporan awal militer Israel, korban berasal dari Batalyon 7106 Brigade Regional ke-769. Dari sembilan tentara yang terluka, empat di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Para korban segera dievakuasi menggunakan helikopter ke fasilitas medis, sementara pihak keluarga telah diberi kabar.
Tak lama setelah kejadian, militer Israel melancarkan serangan balasan ke sejumlah titik yang dianggap sebagai sumber ancaman di wilayah itu. Hingga kini, penyelidikan terkait detail insiden masih berlangsung.
Dengan tambahan korban terbaru, jumlah tentara Israel yang tewas dalam operasi di Lebanon selatan kini mencapai 16 orang.
Di sisi lain, konflik berkepanjangan ini telah menelan korban sipil yang jauh lebih besar, dengan lebih dari 2.000 warga Lebanon dilaporkan meninggal dunia sejak eskalasi meningkat.
Sementara itu, pernyataan keras datang dari Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem. Dalam wawancaranya dengan media lokal, ia menilai kesepakatan gencatan senjata tidak adil dan justru merugikan Lebanon.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak terikat untuk mematuhi kesepakatan yang dianggap sepihak tersebut.
Qassem menyinggung pengalaman sebelumnya, di mana gencatan senjata yang berlangsung selama lebih dari satu tahun dinilai tidak efektif menghentikan aksi militer Israel.
Ia menyebut periode tersebut sebagai masa penuh harapan diplomasi yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil.
Di tengah ketidakpastian, arus warga sipil yang kembali ke Lebanon selatan terus berlangsung. Banyak di antara mereka datang untuk memeriksa kondisi rumah, mengambil barang-barang, serta melakukan perbaikan seadanya. Meski demikian, sebagian besar memilih tidak menetap karena situasi keamanan yang masih rawan.
Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun secara formal gencatan senjata telah diberlakukan, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda dan potensi konflik lanjutan masih terbuka.
![]()



























