BERITA.NEWS, Teheran – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah mendesak AS untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz dan kembali membuka jalur diplomasi dengan Iran .
Laporan Wall Street Journal pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat, menyebutkan bahwa negara-negara Teluk mulai khawatir kebijakan blokade tersebut justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Mereka menilai langkah itu berpotensi mengganggu jalur pelayaran vital dunia serta memicu respons balasan dari Teheran.
Kekhawatiran utama muncul dari kemungkinan Iran menutup , jalur sempit strategis di Laut Merah yang menjadi salah satu nadi distribusi energi global, termasuk ekspor minyak dari Arab Saudi.
Menurut laporan tersebut, negara-negara di kawasan tidak menginginkan konflik berujung pada dominasi Iran atas Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan energi mereka.
Oleh karena itu, dorongan untuk menyelesaikan konflik melalui perundingan terus menguat di balik layar diplomasi.
Di sisi lain, komunikasi antara Washington dan Teheran disebut masih berlangsung melalui perantara, meskipun kedua pihak menampilkan sikap tegas di ruang publik.
Upaya membuka kembali jalur negosiasi disebut sangat bergantung pada fleksibilitas masing-masing pihak.
Sebelumnya, Presiden mengumumkan pemberlakuan blokade angkatan laut di Selat Hormuz yang mulai berlaku pada Senin pukul 14.00 GMT (21.00 WIB).
Kebijakan itu diambil setelah perundingan antara AS dan Iran di gagal mencapai kesepakatan.
Perundingan tersebut merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk meredakan konflik yang melibatkan serangan militer antara AS dan sekutunya dengan Iran, yang dilaporkan telah menelan lebih dari 1.400 korban jiwa sejak akhir Februari lalu.
Menanggapi langkah tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran,
Esmail Baghaei mengkritik keras blokade tersebut.
Ia mempertanyakan manfaat kebijakan itu bagi stabilitas perdagangan global.
“Apakah perang bisa dimenangkan dengan membalas melalui ekonomi global? Apa arti tindakan yang justru merugikan diri sendiri?” ujarnya melalui platform X.
Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.
![]()



























