BERITA.NEWS, Sinjai — Kondisi petani di sejumlah wilayah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kian memprihatinkan memasuki musim tanam. Krisis air yang tak kunjung teratasi membuat para petani harus berjuang ekstra bahkan hingga mengorbankan waktu istirahat mereka. Jumat (8/5/2026).
Di Desa Gareccing dan beberapa wilayah lain, malam hari bukan lagi waktu untuk tidur. Saat warga lain terlelap, para petani justru turun ke sawah dengan senter di tangan, menjaga sisa aliran air yang kini menjadi “barang langka”.

Begadang Demi Air, Petani Bertaruh Nasib
Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi sumber ketegangan. Para petani terpaksa berjaga hingga dini hari demi memastikan sawah mereka tetap mendapat aliran air.
“Setiap malam saya begadang, jaga air resapan hujan yang masih tersisa karena sawah kita di sini andalkan air hujan,” ungkap Ambo Dalle, salah satu petani.
Rutinitas ini bahkan sudah berlangsung berhari-hari. Usai Salat Isya, mereka berangkat ke sawah, dan baru kembali menjelang Subuh. Waktu istirahat pun terkuras habis.
Tak hanya itu, kondisi ini juga memicu konflik kecil antarpetani. Air yang terbatas membuat mereka harus berebut giliran secara manual.
“Kalau lengah sedikit, air bisa dialihkan ke sawah lain. Mau tidak mau harus dijaga terus,” tambahnya.
Irigasi Tak Optimal, Bendungan Apareng Disorot
Situasi ini memicu sorotan dari Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Sinjai Menggugat. Mereka menilai persoalan ini bukan sekadar kendala teknis, melainkan indikasi lemahnya pengelolaan proyek infrastruktur pertanian.
Salah satu yang disorot adalah proyek Irigasi Apareng yang sebelumnya digadang sebagai solusi utama kebutuhan air petani.
Namun di lapangan, bendungan tersebut dinilai belum mampu menjawab kebutuhan irigasi secara optimal. Petani bahkan masih bergantung pada air hujan untuk bertahan.
Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Sinjai Menggugat juga mengungkap dugaan potensi kerugian negara mencapai Rp1,785 miliar yang dinilai perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Dari Krisis Air ke Masalah Sistemik
Tak berhenti pada persoalan irigasi, Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Sinjai Menggugat juga membuka sederet masalah lain yang dinilai saling berkaitan.
Mulai dari kondisi jalan rusak parah di wilayah Tonrong yang menghambat akses warga, bahkan hingga mengganggu layanan kesehatan darurat.
Dalam beberapa kasus, pasien terpaksa ditandu karena kendaraan tidak bisa melintas.
Selain itu, rencana perluasan TPA Tondong juga menuai kekhawatiran. Aliansi mendesak agar proyek tersebut ditunda hingga ada kajian lingkungan yang transparan.
Mereka khawatir potensi pencemaran air tanah dan udara akan berdampak jangka panjang bagi masyarakat.
Desakan Audit dan Ultimatum Aksi
Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Sinjai Menggugat mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI serta aparat penegak hukum untuk melakukan audit menyeluruh terhadap proyek-proyek yang disorot.
Mereka menilai rangkaian persoalan ini mencerminkan adanya masalah sistemik dalam tata kelola pembangunan di daerah.
“Ini bukan sekadar persoalan air, tapi gambaran besar dari kegagalan pengelolaan yang merugikan masyarakat kecil,” tegas mereka.
Tak hanya itu, mereka juga memberikan ultimatum kepada pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.
Jika tidak ada respons yang dianggap memadai, aksi lanjutan dengan skala lebih besar disebut akan digelar, bahkan hingga tingkat provinsi dan nasional.
Publik Menunggu Jawaban
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai berbagai sorotan tersebut.
Sementara itu, para petani tetap menjalani rutinitas berat mereka berjaga di tengah malam, berharap air tetap mengalir dan tanaman mereka bisa bertahan.
Di tengah kondisi ini, publik menunggu langkah nyata pemerintah. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar proyek, melainkan keberlangsungan hidup masyarakat kecil.
Penulis: Thatang
![]()





























