Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

Waspada Cuaca Ekstrem, Inilah Tanda-tanda Kemunculan Angin Puting Beliung

badge-check

					ilustrasi: net Perbesar

ilustrasi: net

BERITA.NEWS, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem dalam rentang waktu 23 hingga 28 Desember 2019. Salah satunya mengenai ancaman terjangan angin puting beliung.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat waspada dengan adanya potensi angin puting beliung, caranya lebih mengenali tanda-tanda kemunculannya.

Dia menyatakan ada lima tanda yang bisa dikenali masyarakat terkait bakal datangnya angin puting beliung.

“Satu hari sebelumnya udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah,” ungkap Dwikorita dalam keterangannya, Rabu (25/12/2019).

Kedua, lanjut dia, pada pagi hari terlihat tumbuh awan kumulus. Di antara awan tersebut terlihat satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya berwarna abu-abu dan menjulang tinggi seperti bunga kol.

“Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam,” paparnya.

Kemudian pepohonan ada dahan dan ranting yang mulai bergoyang dengan cepat. “(Terakhir) ada sentuhan dingin di sekitar tempat kita berdiri,” jelasnya.

Dwikorita juga menjelaskan proses waktu dan terjadinya angin puting beliung. Berdasarkan proses, sambung dia, angin puting beliung pasti muncul di darat, bukan di laut.

Angin ini muncul berasal dari awan kumulus dengan kecepatan 30–40 atau 50 knots.

“Lama waktu kejadian berlangsung selama 3 menit maksimal 5 menit. Dengan jangkauan daerah yang rusak 5 hingga 10 kilometer,” jelasnya.

Ia menambahkan dari segi waktu, angin puting beliung biasa terjadi ketika pancaroba. Baik peralihan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya.

Menurut Dwikorita, angin puting beliung tidak memiliki siklus dan sangat jarang terjadi susulan di lokasi yang sama.

“Lebih sering terjadi saat siang atau sore hari. Saat malam hari sangat jarang terjadi. Waktu terdeteksi 30 menit sampai 1 jam sebelumnya,” beber dia.

Adapun dampak puting beliung, ungkap Dwikorita, bisa membuat rumah semipermanen, papan reklame, hingga pohon yang sudah tua menjadi roboh. Parahnya lagi dapat menimbulkan korban jiwa. Maka itu, dirinya mengingatkan semua pihak mengantisipasi hal tersebut.

“Antisipasinya pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh untuk ditebang dahan-dahannya agar mengurangi beban. Atap rumah yang sudah rapuh diperkuat, dan cepat berlindung dari lokasi kejadian,” tutupnya, dikutip dari Okezone.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

18 April 2026 - 22:09 WITA

bbm

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Bongkar Mafia Narkoba di Balik Jeruji, Menteri Agus: Siap Sikat Tanpa Pandang Bulu

10 April 2026 - 13:59 WITA

Trending di Nasional