Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

JK Sebut Pemerintah Perlu Hemat Saat Pendapatan Negara Turun

badge-check

					Jusuf Kalla (net) Perbesar

Jusuf Kalla (net)

BERITA.NEWS, Jakarta – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan menjaga ekonomi negara sama seperti mengelola rumah tangga. Jika penghasilan negara turun, maka pengeluaran juga harus ditekan.

Hanya saja, penghematan tidak boleh mengurangi investasi yang bermanfaat untuk ekonomi jangka panjang.

Begitu juga rumah tangga. Ketika pendapatan sedang turun, pengeluaran juga perlu dihemat.

“Tapi tidak menghemat untuk investasi ke depan, anak tetap disekolahkan dengan baik, kalau perlu tambah apa lagi yang bisa dikerjakan. Istri kalau perlu tambah kerjaannya,” papar JK, Rabu malam (4/12).

Begitu juga dengan perusahaan. JK menyatakan promosi perusahaan tetap harus berjalan meski pendapatan terus menurun. Bahkan, kalau bisa hari libur dipersingkat agar bisa mencari inovasi-inovasi baru demi mengembangkan usahanya.

“Ekonomi negara juga begitu. Ini karena siklus akan jalan terus. Ini mungkin situasi akan selesai dua sampai tiga tahun,” terangnya.

Ia mengingatkan pemerintah dan pengusaha tak boleh pesimistis dengan situasi global saat ini. Diketahui, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China memang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global. Namun, ia percaya hal itu selesai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

“Pasti survive. Apa AS bisa perang lebih dari satu tahun? Pasti tidak. Dia akan didemo oleh bangsanya sendiri,” jelas JK, seperti dilansir dari CNN Indonesia.

Menurutnya, pemerintah dan pengusaha harus berpikir jangka panjang. Artinya, berbagai belanja dan investasi yang dilakukan juga harus mempertimbangkan situasi masa depan.

“Semua bisa diatasi persoalan itu apabila punya pandangan yang luas. Jadi optimisme itu pasti ada dua hingga tiga tahun yang akan datang,” pungkasnya.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

18 April 2026 - 22:09 WITA

bbm

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Bongkar Mafia Narkoba di Balik Jeruji, Menteri Agus: Siap Sikat Tanpa Pandang Bulu

10 April 2026 - 13:59 WITA

Trending di Nasional