BERITA.NEWS, Teheran – Militer Iran mengklaim berhasil menggagalkan upaya dua kapal perusak Amerika Serikat melintasi Selat Hormuz dalam sebuah insiden yang disebut terjadi pada Sabtu lalu.
Kejadian ini disebut-sebut berlangsung beriringan dengan momentum perundingan antara Iran dan AS di Islamabad, Pakistan.

Media pemerintah Iran, Senin (13/4/2026) waktu setempat, melaporkan bahwa dua kapal perang Angkatan Laut AS, yakni dan , mencoba memasuki jalur strategis menuju Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Namun, upaya tersebut diklaim berhasil dideteksi dan dihentikan oleh pasukan Angkatan Laut Iran, termasuk unit (IRGC).
Menurut laporan tersebut, kapal-kapal AS disebut telah berada dalam kondisi berisiko tinggi setelah sistem pertahanan Iran mengunci target menggunakan rudal jelajah serta mengerahkan drone pengintai.
Iran mengklaim kapal-kapal tersebut diberi ultimatum untuk berbalik arah dalam waktu 30 menit atau menghadapi kemungkinan serangan.
Dalam laporan investigatifnya, Press TV juga menyebut bahwa kapal perang AS diduga menggunakan taktik peperangan elektronik, termasuk memalsukan identitas sebagai kapal komersial yang berbendera Oman.
Selain itu, rute pelayaran yang dipilih disebut berada di perairan dangkal dekat garis pantai untuk menghindari deteksi.
Namun, patroli laut IRGC yang beroperasi di sekitar wilayah Fujairah disebut mampu mengidentifikasi manuver tersebut dengan cepat.
Salah satu kapal perusak, USS Frank E. Petersen Jr., dikabarkan sempat mencoba melanjutkan perjalanan sebelum akhirnya menghentikan pergerakan setelah sistem radar Iran mengunci posisinya dan drone terdeteksi terbang di atas armada.
Komunikasi melalui kanal maritim internasional juga disebut berlangsung, di mana pihak Iran memberikan peringatan tegas agar kapal-kapal tersebut segera meninggalkan wilayah.
Laporan itu menyebutkan bahwa setelah peringatan terakhir, kapal-kapal AS akhirnya mematuhi instruksi dan mundur dari kawasan tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer Amerika Serikat terkait insiden tersebut.
Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia sekaligus titik sensitif dalam dinamika geopolitik internasional.
![]()




























