Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

Muktamar NU Bahas Soal Kemandirian Ekonomi hingga Teknologi Digital

badge-check

					Ketua Panitia Muktamar Ke-34 NU Imam Aziz (kiri) dan Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Ke-34 NU M. Nuh (tengah) saat konferensi pers persiapan Muktamar ke-34 NU. (ANTARA/HO-PBNU) Perbesar

Ketua Panitia Muktamar Ke-34 NU Imam Aziz (kiri) dan Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Ke-34 NU M. Nuh (tengah) saat konferensi pers persiapan Muktamar ke-34 NU. (ANTARA/HO-PBNU)

BERITA.NEWS, Jakarta – Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Lampung pada 22-25 Desember membahas sejumlah agenda mulai dari kemandirian ekonomi, bonus demografi, hingga teknologi digital.

“Mandiri itu kan berdaulat. Misalnya dari sisi ekonomi dan pengelolaan sumber daya yang ada. Kita sangat kaya tetapi belum berdaulat. Inilah yang harus refleksikan untuk ke depan,” ujar Ketua Panitia Muktamar Ke-34 NU, Imam Aziz, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (12/11/2021).

Ia menjelaskan kemandirian warga NU di bidang ekonomi secara umum belum sampai pada cita-cita.

Dengan merujuk pada teori makro-ekonomi, kata dia, kemandirian itu akan berbasis pada beberapa hal, seperti pengetahuan dan intelektual, serta pengembangan sumber daya manusia.

“Saya kira, kita harus rendah hati mengakui bahwa kita belum sampai pada taraf pengetahuan yang cukup untuk dijadikan sebagai landasan,” kata dia.

Ia mengatakan basis yang harus dikembangkan NU untuk mencapai kemandirian adalah soal teknologi, khususnya teknologi informasi.

Ia juga mengakui bahwa NU masih tertinggal terkait dengan hal itu.

“Kita juga masih ketinggalan di situ. Harus direfleksikan, meskipun sekarang sudah mulai banyak, tetapi kan kalau dibandingkan tetangga (tertinggal, red.),” ujarnya.

Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Ke-34 NU M. Nuh menjelaskan pembahasan Muktamar Ke-34 NU didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada 2035.

Kondisi tersebut harus disiapkan mengingat mayoritas di antara 70 persen penduduk Indonesia berusia produktif itu warga NU.

Selain itu, perkembangan teknologi digital yang demikian pesat harus dimanfaatkan NU di dalam pengelolaannya ke depan sebab semua bidang membutuhkan teknologi digital.

Munculnya aliran keagamaan transnasional yang sering mengganggu terhadap prinsip keindonesiaan, kata dia, juga menjadi pertimbangan penting dalam pembahasan muktamar kali ini.

“Kita harus kelola dan sikapi dengan baik,” katanya.

  • ANTARA

Loading

Comments

Baca Lainnya

Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

18 April 2026 - 22:09 WITA

bbm

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Bongkar Mafia Narkoba di Balik Jeruji, Menteri Agus: Siap Sikat Tanpa Pandang Bulu

10 April 2026 - 13:59 WITA

Trending di Nasional