BERITA.NEWS, Bulukumba — Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai membuat petani di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dilanda kekhawatiran.
Ribuan hektare sawah disebut-sebut berpotensi mengalami gagal panen jika kondisi ini terus berlanjut.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bulukumba, Andi Trismiati, mengungkapkan bahwa tidak semua lahan persawahan di daerah tersebut memiliki sistem irigasi yang memadai.
Kondisi ini membuat sebagian besar petani hanya bergantung pada curah hujan.
“Sebagian sawah kita adalah tadah hujan. Kalau tidak turun hujan, sangat rawan kekeringan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Data mencatat, sekitar 2.074,64 hektare sawah tadah hujan berpotensi terdampak serius.
Sementara itu, total luas sawah di Bulukumba mencapai 22.991,33 hektare, dengan 20.916 hektare di antaranya merupakan sawah beririgasi.
Wilayah yang paling rawan mengalami kekeringan tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kajang, Herlang, Bontotiro, dan Bontobahari. Namun, ancaman serupa juga mengintai wilayah lain seperti Gantarang.
Tak tinggal diam, pihak dinas pun mengimbau petani untuk bergerak cepat.
Mereka diminta segera melakukan penanaman pasca panen dengan menggunakan varietas padi berumur pendek guna menghindari puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus.
“Kalau tanam lebih cepat, peluang selamat dari kekeringan lebih besar,” jelas Trismiati.
Selain itu, para penyuluh pertanian juga diminta untuk bersiaga dengan menyiapkan pompa air di tingkat desa dan kecamatan, khususnya untuk membantu petani di wilayah rawan.
Saat ini, sebagian petani di Bulukumba telah memasuki masa panen, sementara lainnya baru akan memulai. Meski diprediksi hanya terdampak El Nino ringan, kewaspadaan tetap menjadi kunci.
Di sisi lain, kondisi berbeda justru diperkirakan terjadi di sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan seperti Jeneponto, Gowa, dan Takalar yang diprediksi akan merasakan dampak El Nino lebih panjang.
Seorang petani di Kalimessang Nawir mengungkapkan, masalah kekeringan sebenarnya sudah menjadi persoalan rutin setiap musim panen kedua. Hal ini disebabkan keterbatasan jangkauan irigasi serta menurunnya debit air sungai.
“Setiap tahun begitu, air tidak sampai ke sawah. Akhirnya sering gagal panen,” keluhnya.
Dengan kondisi tersebut, ancaman El Nino tahun ini menjadi peringatan serius bagi sektor pertanian di Bulukumba. Jika tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin kerugian besar akan dialami para petani.
Penulis: Syarif
![]()





























