BERITA.NEWS, Sinjai — Kondisi memprihatinkan fasilitas olahraga kembali mencuat di Kabupaten Sinjai. Kolam Renang HM Nur Tahir yang merupakan aset pemerintah daerah kini terlihat terbengkalai dan tidak terawat, memicu sorotan publik.
Kolam yang berada di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sinjai ini sebelumnya sempat digunakan sebagai venue cabang olahraga renang pada Porprov 2022. Namun, kini kondisinya jauh dari kata layak.

Berdasarkan pantauan pada Sabtu (4/4/2026), air kolam tampak berwarna hijau pekat dipenuhi lumut. Sampah plastik terlihat mengapung, sementara sejumlah bagian fisik bangunan mengalami kerusakan.
Ironisnya, kolam ini juga diketahui tidak memenuhi standar pertandingan. Panjang kolam disebut kelebihan sekitar 30 centimeter, sementara kedalamannya hanya sekitar dua meter lebih, jauh dari standar ideal 3,5 meter untuk kompetisi.
Padahal, belum lama ini kolam tersebut masih digunakan untuk Kejuaraan Renang antar Pelajar dan Umum tingkat Kabupaten Sinjai Tahun 2026 yang dibuka langsung oleh Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif.
Dalam sambutannya saat itu, Bupati menekankan pentingnya pembinaan atlet serta menjadikan ajang tersebut sebagai sarana melahirkan atlet berprestasi hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Namun kondisi terkini justru menunjukkan kontras yang mencolok antara harapan dan realita di lapangan.
Diketahui, pada tahun 2022 kolam renang ini telah mendapatkan anggaran rehabilitasi sebesar Rp503.000.000 yang bersumber dari APBD.
Proyek tersebut dikerjakan oleh CV. Ghina Jaya Sulharindo dalam kurun waktu Juni hingga September 2022.
Item pekerjaan meliputi pembongkaran dan pemasangan tegel lantai kolam, selasar, serta pembangunan lantai loncatan.
Meski telah direhabilitasi, kondisi saat ini justru kembali memprihatinkan, memunculkan pertanyaan terkait efektivitas pengelolaan dan perawatan fasilitas tersebut.
Salah satu pemerhati olahraga di Sinjai, Andi Darmawansyah, mengungkapkan bahwa minimnya fasilitas dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan atlet di daerah.
“Biasanya baru sibuk cari atlet dan latihan saat mendekati event seperti Porkab atau Porprov,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kurangnya penghargaan terhadap atlet berprestasi yang telah mengharumkan nama daerah.
“Ada atlet yang sudah berprestasi di tingkat nasional, tapi perhatian dari pemerintah masih sangat minim,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk lebih serius dalam menjaga dan mengelola fasilitas olahraga, demi mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Penulis: Thatang
![]()





























