Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Pemprov Sulsel

Dinas TPH-Bun: 65 ha Padi di Bantaeng Rusak Akibat Polusi Smelter

badge-check

					Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPH-BUN) Pemprov Sulsel Imran Jausi saat paparkan program prioritasnya di Tahun Anggaran 2024 (dok.) Perbesar

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPH-BUN) Pemprov Sulsel Imran Jausi saat paparkan program prioritasnya di Tahun Anggaran 2024 (dok.)

BERITA.NEWS,Makassar- Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPH-Bun) Pemprov Sulsel sebut puluhan hektare (ha) tanaman padi di kabupaten Bantaeng rusak akibat dampak polusi asap pabrik smelter.

Kepala Dinas TPH-Bun Pemprov Sulsel Imran Jausi mengatakan pihaknya sudah mengirim tim mengetahui lebih detail dampak rusaknya puluhan hektare tanaman padi di Bantaeng.

“Kemarin itu ada 65 hektare yang terdampak, tadi pagi saya tugaskan kepala Balai berangkat ke bantaeng, awalnya kami duga limbah cair ternyata asap polusi itu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Imran Jausi mengatakan dampak polusi dari cerobong asap pabrik smelter ini sangat cepat merusak tanaman, khususnya padi yang dekat dari lokasi tersebut.

“Jelas polusi itu menghambat proses fotosintesa akhirnya tanaman padi mati secara perlahan,” ungkapnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPH-Bun Sulsel Muhammad Sarifuddin mengatakan asap dari polusi  pabrik smelter mengandung merkuri yang sangat berbahaya bagi lingkungan.

Baca Juga :  Mensos RI Kumpulkan Para Kadis Sosial se-Sulsel Ingatkan Pemuktahiran Data PKH

“Merkuri ini dari asap terjadi di polusi sehingga melengket di daun padi yang ada di bantaeng, kami sedang memastikan luasan yang pasti dan memastikan apa yang di sampaikan pengelola perusahaan,” ujarnya.

Dampak akibat polusi kemungkinan besar akan terus meluas terhadap kelangsungan tanaman pangan dan lingkungan sekitar pabrik smelter jika tidak ada upaya antisipasi dari pihak perusahaan maupun pemerintah.

“Terpaksa bisa saja relokasi lahan karena sudah mengandung merkuri makanya Dinas lingkungan hidup yang turun kesana. Pikiran saya pasti akan relokasi bisa saja di 65 ha akan bertambah,” kata Imran Jausi menambahkan.

Berdasarkan informasi yang ada, pabrik smelter ini dikelola perusahaan PT Huady Nikel Alloy Group, lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari areal pertanian dan pemukiman.

Polusi ini juga rupanya telah dirasakan masyarakat sekitar wilayah Papanloe dan Desa mawang. Kebanyakan dari mereka alami gangguan pernapasan, batuk-batuk akibat debu pabrik smelter.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Mensos RI Kumpulkan Para Kadis Sosial se-Sulsel Ingatkan Pemuktahiran Data PKH

18 April 2026 - 20:52 WITA

Pemprov Kebut Pengaspalan Ruas Aroepala Malam Hari, Atasi Keluhan Debu

18 April 2026 - 09:36 WITA

Hari Jadi ke-66, Gubernur Sulsel Dorong Parepare Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Terintegrasi

14 April 2026 - 14:24 WITA

Hari Jadi Enrekang ke 66, Andi Sudirman Serahkan Bantuan Rp 10 M: Sejahterakan Masyarakat 

14 April 2026 - 08:13 WITA

Pengadaan Randis Lexus LM Sesuai Aturan dan Berbasis Efisiensi Aset

12 April 2026 - 05:51 WITA

Trending di Pemprov Sulsel