Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Opini

Persia, Perlawanan, dan Kematian Seorang Pemimpin: Dunia Kembali Mengingat Iran

badge-check

					Tokoh Pemuda Kabupaten Takalar, Abu Hudzaifah. [Foto: Ist] Perbesar

Tokoh Pemuda Kabupaten Takalar, Abu Hudzaifah. [Foto: Ist]

BERITA.NEWS, Opini — Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026 mengguncang perhatian dunia dan kembali menempatkan Iran di pusat perbincangan geopolitik global.

Pemerintah Iran mengonfirmasi kabar tersebut serta menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, menandai berakhirnya lebih dari tiga dekade kepemimpinan yang sangat berpengaruh dalam politik Timur Tengah.

Peristiwa ini bukan sekadar pergantian pemimpin sebuah negara. Bagi banyak pengamat, kematian Khamenei membuka kembali diskusi tentang identitas historis Iran, sebuah bangsa yang mewarisi tradisi panjang dari peradaban Persia, salah satu kekuatan besar dunia pada masa lampau.

Iran modern memang tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah Persia. Jauh sebelum negara-negara Barat menjadi kekuatan global, wilayah ini telah melahirkan imperium besar seperti Kekaisaran Achaemenid.

Dalam catatan sejarah militer dunia, Persia dikenal memiliki pasukan elite bernama “The Immortals”, sekitar 10.000 prajurit yang selalu siap menggantikan satu sama lain ketika ada yang gugur di medan perang.

Sistem itu melambangkan ketahanan dan disiplin militer yang menjadi simbol kekuatan Persia pada zamannya.

Namun warisan Persia tidak hanya berupa kekuatan militer. Peradaban ini juga meninggalkan pengaruh besar dalam tradisi intelektual, budaya, dan spiritual dunia Islam.

Salah satu tokoh yang sering disebut dalam sejarah adalah Salman al-Farisi, sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia dan dikenal sebagai simbol persatuan lintas bangsa dalam peradaban Islam.

Perjalanan Iran menuju bentuk negara modern dimulai dari peristiwa besar Revolusi Islam 1979.

Revolusi tersebut dipimpin oleh ulama karismatik Ruhollah Khomeini yang berhasil menggulingkan pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi.

Peristiwa ini tidak hanya mengubah sistem politik Iran, tetapi juga mengubah arah hubungan negara tersebut dengan dunia Barat.

Sebelum revolusi, pemerintahan Shah Pahlavi dikenal dengan kebijakan modernisasi yang sangat dipengaruhi model Barat. Kota-kota besar seperti Teheran mengalami perkembangan pesat dalam pendidikan, industri, dan infrastruktur. Namun modernisasi itu juga memunculkan ketimpangan ekonomi serta kritik terhadap pembatasan kebebasan politik.

Di tengah kondisi tersebut, Khomeini tampil dengan gagasan yang berbeda. Ia menawarkan konsep negara berbasis agama yang menolak dominasi Barat sekaligus menegaskan kedaulatan nasional Iran.

Revolusi tersebut akhirnya melahirkan Republik Islam Iran, sebuah sistem pemerintahan yang memadukan otoritas agama dengan struktur negara.

Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, kepemimpinan Iran beralih kepada Ali Khamenei. Selama lebih dari tiga dekade, ia memimpin negara itu dengan model teokrasi yang kuat.

Bagi para pendukungnya, Khamenei merupakan simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Namun bagi para pengkritiknya, kepemimpinannya juga mencerminkan kerasnya sistem politik Iran terhadap oposisi internal.

Dalam sejumlah pidato sebelum wafatnya, Khamenei pernah menegaskan prinsip yang menurutnya menjadi dasar perjuangan Iran: kehidupan atau kematian seorang pemimpin bukanlah hal yang paling penting, melainkan keberlangsungan negara dan kehormatan bangsa.

Narasi tentang kehormatan dan pengorbanan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah dunia Islam.

Dalam berbagai kisah sejarah, kita mengenal tokoh-tokoh yang memimpin dengan semangat serupa.

Salah satunya adalah Tariq ibn Ziyad, panglima Muslim yang menyeberangi Selat Gibraltar pada tahun 711 M bersama sekitar 7.000 pasukan dan membuka jalan bagi hadirnya peradaban Islam di Andalusia.

Sejarah sering menunjukkan pola yang serupa: bangsa yang memiliki keyakinan kuat terhadap identitas dan prinsipnya cenderung mampu bertahan dalam tekanan besar.

Namun sejarah juga memberikan pelajaran lain bahwa kekuatan sejati suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan militernya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga nilai kemanusiaan.

Dalam konteks itulah pesan yang sering dikutip dari Ali ibn Abi Talib tetap terasa relevan hingga hari ini: mereka yang bukan saudaramu dalam iman tetaplah saudaramu dalam kemanusiaan.

Di tengah dunia yang terus diliputi konflik geopolitik, kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan ideologi, agama, dan kepentingan politik tidak seharusnya menghapus nilai dasar kemanusiaan.

Kematian seorang pemimpin mungkin dapat mengubah arah politik suatu negara. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa gagasan, keyakinan, dan identitas suatu bangsa sering kali hidup jauh lebih lama daripada para pemimpinnya.

Persia pernah mengajarkan dunia tentang kejayaan sebuah peradaban. Iran modern hari ini kembali mengingatkan bahwa sejarah, keyakinan, dan politik sering kali berjalan dalam satu garis panjang yang tidak pernah benar-benar terputus.

Oleh: Abu Hudzaifah, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, 7 Maret 2026.

Loading

Comments

Baca Lainnya

OPONI: “NETANYAHU & MACHIAVELLIAN PERSONALITY, Ambisi Kekuasaan di Atas Reruntuhan Moral Kemanusiaan”

31 Maret 2026 - 08:44 WITA

PSEL MAKASSAR Uji Nalar Teknis di Tengah Risiko Sistemik

29 Maret 2026 - 17:49 WITA

Dilema PSEL Makassar, Menimbang Akurasi Teknis di Antara Dua Lokasi

27 Maret 2026 - 19:26 WITA

OPINI: Setahun MULIA Memimpin: Realisasi Janji dan Kepercayaan Publik

20 Februari 2026 - 15:56 WITA

OPINI: Musrenbang Makassar dan Batas Kesungguhan Mendengar

27 Januari 2026 - 11:39 WITA

Trending di Opini