Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

Mahfud MD: “New Normal” masih Wacana

badge-check

					Mahfud MD. (net) Perbesar

Mahfud MD. (net)

BERITA.NEWS, Solo – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI Mahfud MD menyatakan “new normal” atau kenormalan yang baru dalam menghadapi pandemi COVID-19 masih sebatas wacana.

“Mengenai membuat kenormalan yang baru ini, karena sesuatu yang tidak bisa dihindari,” katanya pada kegiatan halal bihalal dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui daring di Solo, Jawa Tengah, Selasa (26/5/2020).

Ia mengatakan masa pandemi COVID-19 ini juga tidak bisa dihadapi dengan cara mengurung diri. Menurut dia, masyarakat mau tidak mau harus menyesuaikan dengan keadaan yang ada namun tetap harus menjaga diri.

“‘Lockdown’ itu sebetulnya bagus, namun demikian dalam kondisi seperti ini justru yang membunuh itu kalau di-‘lockdown’,” katanya.

Oleh karena itu, meski tetap harus mewaspadai wabah tersebut ia meminta masyarakat untuk tidak takut secara berlebihan dalam mengahadapi pandemi COVID-19. Apalagi, dikatakannya, COVID-19 bukan merupakan pembunuh utama di Indonesia.

“Saya ada data, dari awal Januari hingga akhir April, tepatnya selama 131 hari jumlah rata-rata korban meninggal akibat COVID-19 di Indonesia sebanyak 17 orang/hari. Kalau akibat kecelakaan ternyata sembilan kali lebih banyak dan yang meninggal akibat Aids berkali-kali lebih banyak,” katanya.

Sementara itu, mengenai tudingan sejumlah pihak bahwa pemerintah terkesan tidak serius dalam mengantisipasi masuknya COVID-19 di Indonesia, ia menampik mengingat sudah banyak upaya pencegahan yang dilakukan.

“Ada pihak yang mengatakan bahwa pemerintah main-main, padahal awal-awal Corona pemerintah sudah mengantisipasi lama. Corona itu muncul pertama pada akhir Desember 2019 dan Wuhan mulai di-‘lockdown’ pada tanggal 23 Januari,” katanya.

Selanjutnya, dikatakannya, tepatnya pada tanggal 28 Januari 2020 pemerintah mulai menutup penerbangan Jakarta-Beijing.

“Bahkan kami juga menjemput WNI yang saat itu masih ada di Wuhan. Pada 6 Februari saya dengan Pak Terawan (Menteri Kesehatan) berkomunikasi tentang membuat rumah sakit khusus COVID-19. Selanjutnya pada 2 Maret baru ada temuan awal,” katanya.

Menurut dia, Indonesia merupakan negara terakhir di Asia Tenggara yang dimasuki oleh virus tersebut. Ia mengatakan itu menandakan bahwa pemerintah serius menghadapi pandemi COVID-19.

“Menghadapi hal ini saya minta kepada masyarakat agar jangan terlalu mengentengkan tetapi juga jangan takut betul. Mau tidak mau kita harus terbiasa menghadapi itu,” katanya.

. Antara

Loading

Comments

Baca Lainnya

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Bongkar Mafia Narkoba di Balik Jeruji, Menteri Agus: Siap Sikat Tanpa Pandang Bulu

10 April 2026 - 13:59 WITA

OJK Perkuat GRC untuk Jaga Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Risiko Global

9 April 2026 - 08:30 WITA

Trending di Nasional