BERITA.NEWS, Islamabab — Pembicaraan antara dan untuk meredakan konflik bersenjata terpaksa dihentikan sementara setelah maraton diplomasi selama 14 jam di Islamabab , Minggu (12/4/2026).
Meski belum membuahkan kesepakatan, pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur dialog belum ditutup.

Dalam pernyataan resminya, Teheran menyebut negosiasi akan tetap dilanjutkan meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang belum terjembatani.
Pertemuan ini menjadi momen penting sekaligus langka, karena merupakan kontak langsung pertama kedua negara dalam lebih dari satu dekade.
Dialog tersebut juga tercatat sebagai salah satu komunikasi tingkat tinggi paling signifikan sejak .
Hasil perundingan dinilai sangat menentukan, terutama terkait kelanjutan gencatan senjata sementara yang telah berjalan selama dua pekan.
Selain itu, kesepakatan juga berpotensi memengaruhi pembukaan kembali , jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Konflik yang telah berlangsung selama enam pekan antara Washington dan Teheran telah mengguncang pasar global, termasuk lonjakan harga minyak. Ribuan korban jiwa dilaporkan jatuh akibat eskalasi militer tersebut.
Delegasi dari kedua pihak diisi oleh tokoh-tokoh penting. Dari pihak AS hadir Wakil Presiden , utusan khusus , serta . Sementara Iran diwakili Ketua Parlemen dan Menteri Luar Negeri .
Sumber dari Pakistan mengungkapkan bahwa suasana perundingan berlangsung dinamis.
“Terjadi perubahan suasana dari kedua pihak, dengan tensi yang kadang meningkat lalu kembali mereda selama diskusi,” ujarnya.
Sebagai tuan rumah, Pakistan memainkan peran sentral sebagai mediator. Pengamanan di Islamabad diperketat dengan pengerahan ribuan personel demi menjamin kelancaran proses negosiasi.
Sejumlah isu krusial masih menjadi batu sandungan. Iran menuntut pencairan aset yang dibekukan, pengakuan atas kendalinya di Selat Hormuz, serta kompensasi pascaperang.
Di sisi lain, Amerika Serikat mendesak agar jalur pelayaran internasional tetap terbuka dan program nuklir Iran dibatasi secara ketat.
Di tengah upaya diplomasi, situasi di lapangan masih memanas. Militer AS mengklaim tengah menyiapkan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, meski klaim tersebut dibantah oleh media Iran.
Ketegangan juga diperparah oleh langkah , sekutu AS, yang terus melanjutkan operasi militernya di terhadap kelompok yang didukung Teheran.
Tingginya tingkat ketidakpercayaan antara kedua negara membuat jalan menuju kesepakatan damai masih penuh tantangan, meskipun pintu dialog belum sepenuhnya tertutup.
![]()





























