BERITA.NEWS, Gowa – Dampak El Niño mulai dirasakan di Kabupaten Gowa. Suhu udara yang mencapai 32 hingga 33 derajat Celsius menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gowa, Wahyudin, mengungkapkan bahwa saat ini Gowa telah memasuki musim kemarau, meski beberapa wilayah dataran tinggi masih diguyur hujan.

“Untuk Gowa dan sekitarnya kita sudah musim kemarau, tapi beberapa wilayah dataran tinggi masih ada hujan,” kata wahyudin saat dikonfirmasi.
Berdasarkan informasi dari BMKG, puncak dampak El Niño diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.
Pada periode tersebut, hujan bahkan diprediksi tidak lagi turun, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Sejumlah wilayah dataran rendah di Gowa menjadi daerah yang paling rawan terdampak kekeringan dan krisis air bersih.
Kata Kepala BPBD Gowa, diantaranya Kecamatan Bontonompo, Bontonompo Selatan, dan Bajeng.
“Untuk wilayah rawan kekeringan berada di dataran rendah seperti Bontonompo, Bonsel dan Bajeng,” jelas Wahyudin.
Selain ancaman kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mulai diwaspadai, khususnya di kawasan Parangloe, Parigi, Malino hingga Tombolopao.
Menghadapi situasi tersebut, BPBD Gowa telah melakukan langkah awal berupa sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi kemarau panjang serta memperkuat koordinasi lintas instansi dalam upaya kesiapsiagaan.
“Yang paling utama kami mensosialisasikan kemarau panjang yang akan terjadi dan berkoordinasi dengan instansi terkait dalam kesiapsiagaan menghadapi kekeringan,” ujarnya.
Meski ancaman mulai terlihat, status kebencanaan di Gowa saat ini masih dalam kondisi normal.
Pemerintah daerah masih menunggu perkembangan dan rilis terbaru dari BMKG sebelum menetapkan status siaga atau darurat kekeringan.
“Saat ini masih normal, kami tunggu rilis BMKG sebulan ke depan apakah perlu status siaga bencana atau tidak,” tambahnya.
BPBD Gowa juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau panjang, khususnya dalam mencegah kebakaran dan menghemat penggunaan air bersih.
“Masyarakat diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak melakukan pembakaran, lebih baik sampah ditanam, serta menggunakan air bersih secukupnya dan menjaga kesehatan,” tutupnya.
Penulis : Kadir
![]()





























