Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Makassar

BGN Soroti Rendahnya SPPG Bersertifikat Higiene Sanitasi di Sulsel, Baru 46 dari 536 Unit

badge-check

					Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran. (Foto: Istimewa) Perbesar

Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran. (Foto: Istimewa)

BERITA.NEWS, Makassar — Badan Gizi Nasional (BGN) RI menyoroti rendahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sulawesi Selatan yang telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Dari 536 SPPG yang beroperasi, hanya 46 unit yang memenuhi standar higiene dan sanitasi.

Kondisi ini dinilai krusial mengingat SPPG adalah garda terdepan dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto.

Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, mengungkapkan bahwa Sulsel memiliki 625 SPPG terdaftar. Namun, hanya 536 unit yang saat ini aktif melayani 1,39 juta penerima manfaat program MBG.

“Cukup signifikan untuk memperbaiki gizi anak-anak di Sulsel, terutama dalam mengurangi stunting bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui,” ujar Suardi dalam kegiatan Sosialisasi Penjamah Makanan di Hotel Myko Makassar, Sabtu (22/11).

Suardi menegaskan pentingnya peran SPPG dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, berkualitas, serta terjamin kebutuhan gizi dan higienitasnya.

Baca Juga :  Soal Aksi Seruan Dukung JK di Makassar, KALLA Minta Semua Pihak Menahan Diri

Menurutnya, keberlanjutan program gizi ini menjadi salah satu pilar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Ketika itu tercapai, Indonesia akan menjadi benar-benar negara yang besar,” tegasnya.

Meski demikian, Suardi menyoroti fakta bahwa hanya 46 SPPG yang telah memiliki SLHS dari Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan setempat.

Ia mendorong agar seluruh SPPG segera melengkapi sertifikasi tersebut demi menjamin keamanan pangan.

“SPPG wajib memenuhi syarat-syarat dari dinas kesehatan. Lakukan yang benar, jangan membenarkan yang salah,” tuturnya.

Terkait sosialisasi penjamah makanan, Suardi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal dalam pemenuhan standar SLHS di seluruh SPPG.

Penjamah makanan, yang bertugas mulai dari proses memasak hingga pemorsian, harus menerapkan prinsip higienitas dan kecukupan gizi.

“Itu harus benar-benar sesuai aturan. Jangan sampai asal-asalan. Ini berbahaya bagi tujuan akhir,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa para penjamah makanan merupakan relawan yang direkrut SPPG untuk mengelola dapur program MBG.

Suardi menekankan pentingnya pencegahan kasus keracunan makanan yang pernah terjadi dalam program serupa.

“Wajib higien, wajib sehat, dan harus sesuai ketentuan agar tidak muncul reaksi dari zat makanan,” pungkasnya.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Mensos RI Tinjau Fasilitas Sekolah Rakyat MA 26 Makassar

18 April 2026 - 14:18 WITA

Gunakan Fasum Selama 30 Tahun, Lapak PKL di Jalan Tinumbu Bongkar Mandiri

18 April 2026 - 10:15 WITA

Antisipasi Kemarau Panjang, Damkar Makassar Siagakan 7 Posko & 60 Armada

17 April 2026 - 18:20 WITA

Menuju 10 Besar, 68 Peserta Ikuti Seleksi Komisioner BAZNAS Makassar

17 April 2026 - 14:13 WITA

WFH Pemkot Makassar, Munafri Gowes Bareng SKPD Pantau Kebersihan Kota

17 April 2026 - 13:45 WITA

Trending di Makassar