Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Daerah

Ini Analisis LAPAN Terkait Banjir Bandang di Luwu Utara

badge-check

					foto: net Perbesar

foto: net

BERITA.NEWS, Jakarta – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisa perubahan penutup lahan, curah hujan, serta struktur geomorfologi & geologi di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi untuk mengungkap peristiwa banjir bandang pada tanggal 13 Juli 2020.

Hasil analisa penutup lahan menunjukkan tidak ada perubahan yang cukup signifikan baik untuk penutup lahan hutan, pertanian, maupun lainnya.

Dalam analisanya LAPAN menggunakan data satelit Landsat yang sudah di mosaik bebas awan pada 2010 dan 2020.

“Hasil ini masih perlu dikaji lebih mendalam karena ada beberapa spot pembukaan lahan yang belum nampak jelas dari citra satelit yang digunakan. Diperlukan satelit resolusi yang lebih tinggi untuk analisa lebih lanjut,” kata Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN Rokhis Komaruddin, Jumat (17/7), mengutip CNN Indonesia.

Selain penutup lahan, tim LAPAN yang dikomandoi oleh Rokhis menganalisa curah hujan pada tanggal 11 sampai 13 Juli 2020. Dari data satelit Himawari – 8 dapat dilihat terdapat hujan dengan intensitas yang cukup lama pada tanggal 12 Juli hingga 13 Juli dari sekitar jam 22.00 WITA sampai jam 6.00 WITA.

“Kemudian pada siang hari sekitar jam 13.00 WITA kembali terjadi hujan dengan intensitas yang lama sampai malam hari ketika terjadi bencana banjir bandang. Curah hujan membawa pengaruh yang signifikan sebagai pembawa material lumpur dan ranting pohon dari wilayah hulu sungai,” kata Rokhis.

Tim LAPAN juga menganalisa struktur geomorfologi dan geologi di Kabupaten Luwu Utara. Hasil analisa memperlihatkan wilayah hulu sungai Sabbang, sungai Radda, dan sungai Masamba merupakan perbukitan yang sangat terjal dan kasar yang dibentuk dari patahan-patahan akibat proses tektonik pada masa lampau.

Banyaknya patahan yang terdapat di wilayah ini menyebabkan struktur batuan atau tanahnya tidak cukup kuat untuk mempertahankan posisinya.

“Hal ini menyebabkan mudah terjadi longsor yang apabila terakumulasi dapat terjadi banjir bandang,” ujar Rokhis.

Dukungan data satelit penginderaan jauh setelah kejadian banjir masih diperlukan dengan terus mencari data satelit baik melalui stasiun bumi yang dimiliki oleh LAPAN atau melalui komunitas internasional terkait dengan kebencanaan.

Saat ini Tim LAPAN bersama dengan tim dari Center of Remote Sensing ITB, Universitas Hasanudin, dan Asian Institute of Technology (AIT) masih terus menganalisa daerah yang rusak akibat banjir bandang di kota Masamba.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Lapas Palopo Edukasi Warga Binaan Lewat Sosialisasi KUHP Baru

17 April 2026 - 18:47 WITA

Komitmen Tanpa Kompromi, Rutan Masamba Ikrar Bersih dari Narkoba dan Handphone

17 April 2026 - 12:43 WITA

Waspada El Nino, Kapolres Maros Serukan Siaga Kekeringan dan Kebakaran Hutan

15 April 2026 - 09:38 WITA

Kapolres Maros Dukung Gerakan Pangan, IKA PMII Siap Garap Lahan di Mallawa

14 April 2026 - 17:00 WITA

Rutan Masamba Diklaim Konsisten Razia, Aktivis Bantah Dugaan Pembiaran

14 April 2026 - 15:10 WITA

Trending di Daerah