BERITA.NEWS — Masyarakat yang berencana membeli mobil bekas melalui internet diminta meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, belakangan ini marak modus penipuan segitiga dalam transaksi jual beli mobil bekas yang menyebabkan kerugian finansial bagi korban.
Modus ini terbilang licik karena tidak hanya menipu pembeli, tetapi juga menyeret penjual asli mobil yang sebenarnya tidak mengetahui adanya transaksi tersebut.

Dalam skema penipuan ini, pelaku memanfaatkan data kendaraan milik orang lain yang diambil dari iklan jual beli mobil di media sosial maupun situs marketplace.
Foto mobil, deskripsi kendaraan, hingga informasi kontak kemudian disalin oleh pelaku untuk membuat iklan baru dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar.
Harga yang tidak masuk akal inilah yang biasanya menjadi umpan utama untuk menarik perhatian calon pembeli.
Cara Kerja Modus Segitiga
Setelah calon pembeli tertarik dan menghubungi nomor yang tertera di iklan, pelaku akan berpura-pura sebagai pemilik atau perantara mobil tersebut.
Namun saat pembeli ingin bertemu langsung, pelaku biasanya berdalih sedang berada di luar kota.
Sebagai gantinya, pelaku akan mengarahkan pembeli untuk menemui seseorang yang disebut sebagai “saudara”, “teman”, atau “rekan kerja”.
Padahal orang yang dimaksud sebenarnya adalah pemilik asli mobil yang memang sedang menjual kendaraannya secara normal.
Jebakan Penipuan Segitiga
Saat pembeli datang untuk melihat mobil, penipu sebelumnya telah memberikan pesan agar tidak membicarakan harga atau proses transaksi dengan pemilik mobil.
Pelaku biasanya berdalih bahwa harga sudah disepakati sebelumnya atau alasan lain yang membuat pembeli tidak curiga.
Setelah pembeli merasa cocok dengan kondisi kendaraan, pelaku kemudian meminta pembayaran dilakukan melalui transfer bank ke rekening yang ia berikan.
Karena mengira rekening tersebut milik penjual, pembeli pun mentransfer uang sesuai kesepakatan.
Namun setelah uang dikirim, pelaku langsung memutus komunikasi dengan memblokir nomor pembeli dan penjual asli.
Pada saat itulah pembeli baru menyadari bahwa pemilik mobil tidak pernah menerima uang pembayaran.
Akibatnya, pembeli kehilangan uang, sementara penjual asli juga menjadi korban karena mobilnya digunakan sebagai alat penipuan.
Ciri-ciri Penipuan Segitiga Jual Beli Mobil
Agar tidak terjebak dalam modus ini, masyarakat perlu mengenali beberapa tanda yang sering muncul dalam kasus penipuan segitiga, antara lain:
1. Harga terlalu murah
Harga mobil yang ditawarkan biasanya jauh di bawah harga pasar untuk menarik perhatian calon pembeli.
2. Penjual mengaku berada di luar kota
Pelaku hampir selalu menggunakan alasan sedang berada di luar kota sehingga tidak bisa bertemu langsung.
3. Pembeli diarahkan menemui orang lain
Orang yang ditemui sebenarnya adalah pemilik asli mobil yang tidak mengetahui adanya penipuan.
4. Tidak boleh membahas harga dengan pemilik mobil
Penipu biasanya meminta pembeli tidak membicarakan harga atau transaksi dengan orang yang menunjukkan mobil.
5. Pembayaran melalui rekening yang berbeda
Transfer diarahkan ke rekening penipu, bukan ke rekening pemilik mobil yang sah.
6. Foto kendaraan hasil mengambil dari iklan lain
Penipu sering mencuri foto kendaraan dari iklan yang sudah ada di internet.
Tips Aman Membeli Mobil Bekas
Untuk menghindari menjadi korban penipuan, calon pembeli disarankan melakukan beberapa langkah pencegahan, di antaranya:
- Selalu bertemu langsung dengan pemilik kendaraan.
- Pastikan rekening pembayaran sesuai dengan nama pemilik mobil.
- Lakukan verifikasi dokumen kendaraan seperti STNK dan BPKB.
- Hindari transaksi jika harga terlalu murah dan tidak masuk akal.
- Gunakan platform transaksi terpercaya yang menyediakan sistem perlindungan pembeli.
Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat agar segera melaporkan jika menemukan indikasi penipuan transaksi kendaraan secara online.
Meningkatnya aktivitas jual beli melalui internet memang memudahkan masyarakat, namun di sisi lain juga membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin canggih.
Karena itu, kewaspadaan dan verifikasi sebelum melakukan transaksi menjadi kunci utama agar tidak menjadi korban berikutnya.
![]()





























