Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

Fenomena Aphelion Terjadi Juli 2025, BMKG Pastikan Bukan Penyebab Cuaca Dingin Ekstrem

badge-check

					Ilustrasi Fenomena Aphelion. (Foto: Int) Perbesar

Ilustrasi Fenomena Aphelion. (Foto: Int)

BERITA.NEWS, Jakarta – Fenomena astronomi tahunan bernama aphelion kembali terjadi pada Juli 2025.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa puncak fenomena ini terjadi pada 5 Juli.

Pada saat aphelion, posisi Bumi berada paling jauh dari Matahari dalam orbit elipsnya.

Tahun ini, jarak Bumi dan Matahari mencapai sekitar 152,1 juta kilometer.

Meski sering dikaitkan dengan suhu dingin yang dirasakan masyarakat, BMKG menegaskan aphelion bukan penyebab utama cuaca dingin ekstrem yang terjadi belakangan ini.

“Pengaruh aphelion terhadap suhu udara sangat kecil. Penurunan suhu lebih dipengaruhi oleh musim kemarau dan kondisi atmosfer,” ujar Kepala Pusat Informasi Iklim BMKG, Dr. Fachri Radjab, Kamis (17/7/2025).

BMKG mencatat suhu udara minimum harian di beberapa wilayah pegunungan turun drastis.

Baca Juga :  Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Contohnya, di dataran tinggi Dieng dan Malang, suhu tercatat antara 11 hingga 13 derajat Celsius.

Penurunan suhu ini disebut wajar. Hal itu terjadi karena pada musim kemarau, langit cenderung lebih cerah, menyebabkan radiasi panas ke atmosfer lebih cepat hilang saat malam.

Aphelion sendiri merupakan fenomena yang terjadi setiap tahun. Biasanya berlangsung antara awal hingga pertengahan Juli.

Sebaliknya, fenomena perihelion di mana Bumi berada paling dekat dengan Matahari terjadi di awal Januari. Saat itu, jaraknya sekitar 147 juta kilometer.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Suhu dingin merupakan fenomena alami yang rutin terjadi saat kemarau.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya hoaks. Aphelion tidak menyebabkan gangguan kesehatan, bencana, atau cuaca ekstrem.

“Yang penting, jaga daya tahan tubuh, terutama pada malam dan pagi hari yang lebih dingin,” lanjut Fachri.

BMKG memastikan cuaca saat ini masih dalam kondisi normal untuk musim kemarau. Tidak ada indikasi perubahan iklim ekstrem terkait aphelion.

Loading

Comments

Baca Lainnya

Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

18 April 2026 - 22:09 WITA

bbm

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Bongkar Mafia Narkoba di Balik Jeruji, Menteri Agus: Siap Sikat Tanpa Pandang Bulu

10 April 2026 - 13:59 WITA

Trending di Nasional