Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Nasional

Di Balik Lonjakan Ekonomi 5,6 Persen, DPR RI Beri Peringatan Keras ke Pemerintah

badge-check

					Andi Yuliani Paris, Anggota DPR RI Fraksi PAN. [Foto: DPR RI] Perbesar

Andi Yuliani Paris, Anggota DPR RI Fraksi PAN. [Foto: DPR RI]

BERITA.NEWS, Jakarta — Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menembus 5,6 persen pada kuartal awal 2026 memang terdengar menggembirakan. Namun, di balik capaian tersebut, muncul peringatan serius dari parlemen yang tak bisa diabaikan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris, menegaskan bahwa lonjakan tersebut belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi yang benar-benar stabil.

Ia menyebut, pertumbuhan itu sangat mungkin dipengaruhi faktor musiman pasca Lebaran yang mendorong lonjakan konsumsi masyarakat secara signifikan.

“Ini kan baru kuartal awal setelah Lebaran. Jadi kemungkinan besar masih bersifat seasonal. Kita harus lihat lagi di kuartal berikutnya,” ujar Andi Yuliani, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, tingginya permintaan terhadap bahan konsumsi seperti makanan hingga emas menjadi faktor utama yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi sementara waktu.

Namun, kondisi ini dinilai belum cukup kuat untuk menjadi indikator keberlanjutan ekonomi nasional.

Tak hanya itu, legislator dari Fraksi PAN tersebut juga mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen tidak bisa hanya bergantung pada angka nasional semata.

Ia menegaskan, seluruh daerah di Indonesia harus mampu tumbuh secara merata.

“Kalau kita ingin pertumbuhan di atas 5 persen, maka seluruh provinsi juga harus tumbuh di angka itu. Tidak bisa hanya beberapa daerah saja,” tegasnya.

Ia pun menyoroti pentingnya pengendalian inflasi yang dinilai sebagai faktor krusial.

Pemerintah diminta menjaga inflasi agar tidak melampaui batas 3 persen, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga ke daerah-daerah.

“Inflasi di kabupaten dan kota juga harus diawasi. Kalau tidak, ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” tambahnya.

Lebih jauh, Andi Yuliani mengkritik pendekatan kebijakan pemerintah yang dinilai masih cenderung seragam di seluruh wilayah. Padahal, setiap daerah memiliki karakteristik dan potensi ekonomi yang berbeda.

Ia menegaskan bahwa kebijakan yang dipaksakan sama justru berpotensi tidak efektif bahkan menghambat pertumbuhan di daerah tertentu.

“Tidak bisa disamaratakan. Kota A tidak bisa diperlakukan sama dengan kota B. Potensi dan targetnya berbeda,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk lebih fokus pada pendekatan berbasis lokal dengan memaksimalkan potensi daerah melalui dukungan APBN yang tepat sasaran.

Pernyataan ini sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah agar tidak terlena dengan angka pertumbuhan yang terlihat tinggi.

Sebab, tanpa strategi yang tepat dan pengawasan ketat, capaian tersebut bisa saja hanya bersifat sementara bahkan berisiko menurun di kuartal berikutnya.

Loading

Comments

Baca Lainnya

OJK dan BSSN Perkuat Ketahanan Siber Industri Keuangan Digital

30 April 2026 - 14:53 WITA

Lonjakan Harga BBM Tembus Rp23 Ribu/Liter, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

18 April 2026 - 22:09 WITA

bbm

OJK Perkuat Pengawasan Industri PPDP, Dukung Perekonomian Nasional

14 April 2026 - 08:21 WITA

Modus Janjikan Pengaturan Perkara, Empat Oknum Mengaku Pegawai KPK Ditangkap

10 April 2026 - 19:19 WITA

BPKH Salurkan Uang Saku Haji 2026, Jemaah Terima 750 Riyal untuk Kebutuhan di Tanah Suci

10 April 2026 - 15:46 WITA

Trending di Nasional