BERITA.NEWS, SINJAI – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali merebak di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dengan 2.064 ekor sapi terjangkit sepanjang tahun 2025.
Delapan ekor di antaranya mati akibat infeksi, memicu kritik terhadap Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai yang dinilai belum cukup cepat dalam menangani penyebaran penyakit ini.
Beberapa peternak mengeluhkan lambannya langkah pencegahan, terutama dalam pengawasan lalu lintas ternak yang menjadi faktor utama penyebaran PMK.
“Sapi yang sakit masih bebas diperdagangkan tanpa pengawasan ketat, sehingga penyakit ini makin meluas,” ujar seorang peternak di Sinjai Selatan, Jumat (14/3/2025).
Vaksinasi dan Sosialisasi Dinilai Kurang Efektif
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Peternakan Sinjai, Ratnawati, mengklaim bahwa pihaknya telah berupaya maksimal dalam menangani wabah ini.
“Kami sudah melakukan vaksinasi terhadap 4.680 ekor sapi sejak Januari hingga Maret 2025, serta terus melakukan sosialisasi kepada peternak,” ungkapnya.
Namun, beberapa pihak menilai langkah tersebut belum cukup. Sosialisasi yang dilakukan dinilai belum menjangkau seluruh peternak, sementara vaksinasi belum dilakukan secara menyeluruh.
“Masih banyak peternak yang bingung harus berbuat apa ketika sapinya terkena PMK, padahal seharusnya ada pendampingan lebih intensif,” kata seorang tokoh peternakan lokal.
Desakan Percepatan Tindakan
Meningkatnya jumlah kasus PMK memicu desakan agar Dinas Peternakan Sinjai bertindak lebih tegas dan cepat.
Beberapa peternak meminta adanya pengawasan ketat di pasar hewan serta pemeriksaan lebih rutin terhadap ternak yang keluar-masuk wilayah Sinjai.
“Jangan hanya vaksinasi, tetapi juga harus ada tindakan nyata dalam mengawasi pergerakan ternak. Jika tidak, kasus PMK akan terus bertambah,” tegas seorang peternak di Sinjai Tengah.
Dengan kritik yang muncul, Dinas Peternakan Sinjai diharapkan segera meningkatkan langkah-langkah pencegahan yang lebih efektif agar wabah PMK bisa segera dikendalikan dan tidak semakin meluas.
Comment