BERITA.NEWS, Sinjai — Tangis haru menyelimuti sebuah pertemuan sederhana di sudut Kota Makkah. Di tengah ribuan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia, seorang pria sederhana asal Kabupaten Sinjai justru mencuri perhatian, bukan karena kemewahan, melainkan karena ketulusan dan perjuangannya.
Dialah Saifuddin HM Abd Muin Saideng, seorang imam masjid tunanetra yang selama puluhan tahun mengabdikan diri dalam sunyi, tanpa pernah melihat dunia secara utuh. Namun di Tanah Suci, justru dunia seakan “melihatnya” dengan penuh penghormatan.

Momen menggetarkan itu terjadi di Hotel 608 Al-Hadaiq Al-Raqiah, kawasan Jarwal, Makkah, pada Rabu (13/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Pemerintah Arab Saudi datang bukan sekadar menyapa, melainkan membawa kabar yang membuat banyak orang terdiam haru.
Mereka secara khusus mencari jemaah tertua untuk diberi penghormatan. Saat nama Saifuddin disebut, suasana seketika berubah.
Bukan hanya ucapan selamat datang yang diberikan, tetapi juga sebuah rencana besar yaitu membangun masjid dan wakaf atas nama dirinya.
Sebuah penghargaan yang tak hanya langka, tetapi juga sarat makna.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sinjai, H Faried Wajedi, yang mendampingi langsung pertemuan tersebut, mengaku ikut tersentuh menyaksikan momen itu.
“Mereka datang bukan sekadar memberi hadiah. Ini bentuk penghormatan luar biasa. Mereka ingin membangun masjid dan wakaf atas nama beliau,” ungkap Faried dengan suara bergetar.
Namun di balik penghormatan besar itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh air mata dan kesabaran.
Selama kurang lebih 20 tahun, Saifuddin menabung sedikit demi sedikit demi satu impian menunaikan ibadah haji.
Dalam keterbatasan penglihatan, ia tetap berdiri di mihrab, memimpin salat sebagai imam, menjadi penuntun bagi banyak orang meski dirinya sendiri hidup dalam gelap.
Tak ada keluhan. Tak ada putus asa. Ia berjalan dengan keyakinan, bahwa setiap langkah kecil akan sampai pada tujuan besar.
Dan kini, di Tanah Suci, perjuangan itu seakan dijawab dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Bagi banyak jemaah, kisah Saifuddin bukan sekadar cerita inspiratif. Ini adalah pengingat bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Bahwa ketulusan, kesabaran, dan keyakinan mampu membuka pintu-pintu keajaiban.
Di tengah gemuruh doa di Makkah, nama Saifuddin kini tak hanya terucap dalam lantunan salat, tetapi juga akan diabadikan dalam sebuah masjid, sebagai simbol bahwa perjuangan yang tulus tak pernah sia-sia.
Ini ebuah kisah yang mengajarkan, bahwa meski mata tak mampu melihat dunia, namun ketulusan hati mampu membuat dunia melihatnya.
Penulis: Thatang
![]()





























