Menu

Mode Gelap
Ini Syarat Lengkap Naik KRL selama PSBB Jakarta, Masker Kain Minimal 2 Lapis Kain PSBB Total: Transportasi Kembali Dibatasi, Kegiatan Publik Ditunda Pemprov DKI Tutup Tempat Hiburan selama PSBB Total Mulai 14 September, Termasuk Monas dan Ancol Motor Pribadi Kena Ganjil-Genap di PSBB Transisi Pergub Baru di DKI: Tak Pakai Masker Berulang Bisa Didenda hingga Rp 1 Juta Wamenag: Hampir 88,6 Persen KUA di Jakarta Tidak Layak

Makassar

Belum Digelar, Konferensi PWI Sulsel Sudah Tuai Kontroversi

badge-check

					Ilustrasi suasana polemik jelang Konferensi PWI Sulsel di Graha Pena Fajar, Makassar. Pemilihan venue konferensi menuai sorotan terkait isu netralitas dan independensi organisasi. (Foto: Berita.News) Perbesar

Ilustrasi suasana polemik jelang Konferensi PWI Sulsel di Graha Pena Fajar, Makassar. Pemilihan venue konferensi menuai sorotan terkait isu netralitas dan independensi organisasi. (Foto: Berita.News)

BERITA.NEWS, Makassar – Konferensi PWI Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Juni 2026 mendatang mulai memunculkan polemik bahkan sebelum resmi digelar.

Sorotan datang setelah panitia menetapkan Graha Pena Fajar sebagai lokasi pelaksanaan konferensi. Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Penyelamat PWI Sulsel.

Sebelumnya, panitia konferensi melalui juru bicaranya, Muhammad Arafah, menyebut pemilihan Graha Pena dilakukan setelah mempertimbangkan sejumlah aspek teknis, mulai dari kapasitas ruangan, kenyamanan, keamanan, hingga area parkir.

Panitia juga mengaku telah meninjau beberapa lokasi alternatif yang direkomendasikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, seperti Aula Jusuf Kalla dan Gedung Mulo. Namun, lokasi tersebut dinilai belum mampu menampung sekitar 400 peserta dan peninjau konferensi.

Meski demikian, keputusan tersebut dinilai memunculkan persepsi ketidaknetralan di internal organisasi.

Ketua Forum Penyelamat PWI Sulsel, Arfandi Palallo, mengatakan lokasi konferensi seharusnya mampu menghadirkan rasa keadilan dan independensi bagi seluruh peserta.

Baca Juga :  Pedagang Kelapa Kawasan Rotterdam Akan Dipindahkan ke Pasar Kampung Baru

“Ini bukan hanya soal gedung atau fasilitas, tetapi menyangkut persepsi netralitas dan independensi konferensi. Venue pelaksanaan harus steril dari kesan keberpihakan,” ujar Arfandi.

Menurutnya, kondisi internal PWI Sulsel saat ini membutuhkan proses konferensi yang benar-benar bersih dan dapat diterima semua pihak.

“PWI Sulsel sedang menghadapi krisis kepercayaan internal. Karena itu semua tahapan konferensi harus menghadirkan rasa netral bagi seluruh anggota,” katanya.

Arfandi menilai penggunaan Graha Pena Fajar berpotensi memunculkan asumsi adanya kedekatan emosional maupun historis dengan kelompok tertentu di internal organisasi.

“Kalau sejak awal sudah muncul persepsi keberpihakan, maka hasil konferensi nantinya bisa terus dipersoalkan. Padahal yang dibutuhkan hari ini adalah rekonsiliasi dan pemulihan marwah organisasi,” tegasnya.

Forum Penyelamat PWI Sulsel juga meminta panitia membuka ruang komunikasi dengan seluruh unsur peserta untuk mempertimbangkan lokasi alternatif yang dinilai lebih netral.

“Demokrasi organisasi harus dimulai dari proses yang transparan, independen, dan adil. Tempat konferensi semestinya menjadi ruang bersama seluruh anggota,” tutupnya

Loading

Comments

Baca Lainnya

Pelindo Regional 4 dan Kejati Sulsel Perkuat Tata Kelola Perusahaan

12 Juni 2026 - 09:52 WITA

Pedagang Kelapa Kawasan Rotterdam Akan Dipindahkan ke Pasar Kampung Baru

11 Juni 2026 - 17:58 WITA

Ombudsman Puji Pelayanan Pelindo Makassar, Dorong Budaya Antimaladministrasi

10 Juni 2026 - 16:37 WITA

Munafri Gerakkan RT-RW Kelola Sampah dari Sumber, Percepat Transformasi TPA Tamangapa

9 Juni 2026 - 19:16 WITA

Pelindo dan PT Pelabuhan Samudera Palaran Perkuat Tata Kelola Operasional Terminal Petikemas

9 Juni 2026 - 16:07 WITA

Trending di Makassar