BERITA.NEWS, Sinjai — Senja belum benar-benar turun ketika tawa itu pecah di sudut sebuah tempat kuliner di Sinjai Utara. Hangat, lepas, dan tanpa sekat. Tak ada protokoler, tak ada jarak. Hanya cerita lama yang kembali hidup, seolah waktu diputar mundur puluhan tahun.
Di tengah lingkaran keakraban itu, duduk seorang lelaki yang kini dikenal sebagai Wakil Bupati Belitung, Syamsir. Namun di mata sahabat-sahabatnya, ia tetap sosok yang sama, teman sekolah yang dulu berbagi bangku, canda, dan mimpi sederhana.

Mudik Lebaran Idulfitri 2026 membawanya pulang, bukan sekadar untuk melepas rindu pada kampung halaman di Lingkungan Pangasa, Kelurahan Samataring, Kecamatan Sinjai Timur.
Lebih dari itu, ini adalah perjalanan batin kembali menyentuh akar, merajut kembali kenangan yang nyaris terkubur waktu.
Di hadapan para alumni SMP Negeri 2 Sinjai angkatan 2001 yang kini dikenal sebagai SMP Negeri 7 Sinjai, Syamsir tampak larut dalam nostalgia.
Cerita demi cerita mengalir, dari kenangan masa sekolah hingga lika-liku kehidupan yang telah membawa mereka ke jalan masing-masing.
Ada yang kini menjadi aparatur sipil negara, ada yang meniti karier di pemerintahan, dan tak sedikit yang sukses di sektor swasta.
Namun malam itu, semua gelar dan jabatan seakan luruh. Yang tersisa hanyalah persahabatan yang tak lekang oleh waktu.
“Tidak ada yang berubah dari kita, hanya tanggung jawab yang berbeda,” ucap Syamsir, tersenyum hangat.
Kalimat sederhana itu seolah merangkum perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Tak banyak yang tahu, jalan hidup Syamsir tidak selalu mulus. Ia adalah putra daerah Sinjai Timur kelahiran 1984 yang merantau ke Belitung dengan langkah sederhana sebagai nelayan.
Dari laut, ia belajar tentang kerasnya hidup dan arti ketekunan. Perjalanan itu berlanjut ke dunia jurnalistik, sebelum akhirnya ia menapaki panggung politik.
Dua periode sebagai anggota DPRD Belitung menjadi bukti kerja kerasnya, hingga akhirnya dipercaya masyarakat sebagai Wakil Bupati Belitung periode 2025–2030, mendampingi Bupati Djoni Alamsyah Hidayat.
Namun di balik capaian itu, malam di Sinjai Utara menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun langkah kaki melangkah, selalu ada tempat untuk pulang dan orang-orang yang tak pernah berubah dalam ingatan.
Reuni itu bukan sekadar temu kangen. Ia adalah cermin perjalanan, penguat jati diri, dan pengingat bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang bagaimana tetap membumi di tengah ketinggian.
Di bawah langit Sinjai yang mulai gelap, tawa itu masih terdengar. Dan di sanalah, Syamsir bukan sekadar wakil bupati, ia adalah sahabat, yang pulang.
Penulis: Thatang




























