BERITA.NEWS, Makassar – Penantian panjang warga di Jalan Mamoa Raya, Lorong Buntu, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, akhirnya berbuah manis. Setelah puluhan tahun belum tersentuh pembangunan, jalan tanah yang selama ini menjadi akses utama warga kini resmi dipaving melalui laporan di aplikasi Lontara Plus milik Pemerintah Kota Makassar.
Kepala RT 3 RW 10, Firdaus Usman, mengungkapkan perjuangan tersebut telah dimulai sejak periode kepemimpinannya sebelumnya. Sekitar enam kepala keluarga (KK) yang bermukim di lorong tersebut sudah hampir 30 tahun mengusulkan pembangunan jalan layak. Namun, usulan itu kerap terkendala karena jumlah rumah yang dinilai tidak banyak sehingga belum menjadi prioritas.
“Awalnya saya sudah sering usulkan lewat Lontara Plus sejak periode lalu. Tapi beberapa kali tertolak dengan alasan jumlah KK sedikit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/3/2026).
Meski demikian, Firdaus tidak menyerah. Ia terus mengajukan laporan secara berulang, apalagi aplikasi tersebut dinilainya cukup responsif dalam menangani berbagai persoalan lingkungan, seperti lampu jalan, konflik warga, hingga pengerukan drainase.
Pada 17 Desember 2025, ia kembali memasukkan laporan. Hanya berselang sepekan, tim survei dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Makassar turun langsung meninjau lokasi.
“Waktu itu saya belum dilantik kembali sebagai RT, masih dijabat PJ. Tapi saya tetap aktif berkoordinasi dengan pihak PU karena laporan warga terus masuk,” jelasnya.
Setelah survei dilakukan, pada Februari 2026 pihak Dinas PU Makassar mengonfirmasi bahwa jalan tersebut akan segera dibangun. Proses pengerjaan dilakukan tanpa mekanisme tender karena masuk dalam kategori penanganan langsung berdasarkan laporan aplikasi yang terpantau pimpinan daerah.
“Ini bukan proyek borongan. Setelah masuk lewat Lontara Plus dan terkontrol langsung oleh Bapak Wali Kota, satgas PU langsung bergerak,” katanya.
Jalan sepanjang kurang lebih 72 meter dengan lebar 3,5 meter itu kini telah dibangun menggunakan paving block. Proses pengerjaan berlangsung sekitar tiga minggu, meski sempat terkendala cuaca hujan.
Firdaus menyebutkan, berdasarkan informasi dari dinas terkait, pembangunan jalan tanah memang menjadi salah satu prioritas, dengan batasan maksimal luasan 200 meter persegi. Beruntung, panjang dan lebar jalan di lorong tersebut masih memenuhi kriteria.
Selama hampir tiga dekade, jalan tersebut tak pernah tersentuh pembangunan meski beberapa kali dilakukan pengukuran. Saat musim hujan, genangan air bahkan bisa mencapai lutut orang dewasa. Warga pun terpaksa melakukan penimbunan secara swadaya untuk mengurangi becek dan banjir.
Sebelumnya, usulan perbaikan juga pernah diajukan melalui Musrenbang Kelurahan serta program Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), namun kembali terkendala pada kriteria jumlah rumah dan penduduk.
“Akhirnya ini jadi prioritas karena memang satu-satunya jalan tanah di kelurahan yang belum pernah dikerjakan sama sekali,” tuturnya.
Firdaus menilai kehadiran aplikasi Lontara Plus menjadi terobosan penting dalam mempercepat pelayanan publik. Menurutnya, warga perlu aktif dan cermat dalam menyampaikan laporan agar cepat ditindaklanjuti.
Ke depan, ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada jalan utama atau poros, tetapi juga menyasar lorong-lorong permukiman. Selain peningkatan jalan, warga masih membutuhkan pembangunan drainase guna mencegah banjir kembali terjadi.
“Harapannya pembangunan itu merata, bukan cuma di jalan poros, tetapi juga di lorong-lorong supaya pemerintah lebih peka terhadap kondisi lingkungan kecil seperti ini,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu warga Mamoa Raya, Yulianti, menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran pemerintah setempat, mulai dari RT hingga Dinas PU Makassar, khususnya kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
“Kami sangat bersyukur. Selama 30 tahun kami berharap akses jalan ini bisa dibangun dengan layak, tapi belum pernah terealisasi. Baru di masa kepemimpinan Bapak Appi aspirasi kami benar-benar didengar,” ungkapnya.
Ia pun berharap pembangunan selanjutnya dapat menyasar drainase di wilayah tersebut, mengingat kawasan itu masih rawan banjir saat musim hujan.
“Kami juga sangat berharap drainase segera dibangun supaya tidak lagi kebanjiran,” tutupnya.
- Putri


Comment