BERITA.NEWS, Sinjai — Wakil Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sinjai, Muh. Izhar, menegaskan bahwa kesalahan paling fatal jurnalis pemula adalah melakukan wawancara tanpa pemahaman konteks dan etika.
Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi pemateri utama dalam Pelatihan Jurnalistik Dasar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi), Kamis–Jumat, 5–6 Februari 2026.
Pelatihan yang berlangsung di Lantai 2 Ruang 1 Kampus UMSi, Jalan Teuku Umar, Kabupaten Sinjai, ini diikuti oleh pengurus BEM serta mahasiswa dari berbagai program studi.
Salah satu fokus utama kegiatan tersebut adalah teknik wawancara, yang menurut Izhar merupakan fondasi paling krusial dalam dunia jurnalistik.
Sebagai jurnalis tersertifikasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang utama Dewan Pers, Izhar menekankan bahwa kualitas sebuah berita sangat ditentukan oleh kemampuan pewawancara dalam menggali informasi secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
“Wawancara bukan sekadar bertanya, tetapi bagaimana membangun kepercayaan narasumber, memahami konteks persoalan, dan menyajikan fakta yang utuh. Jurnalis mahasiswa harus berani bertanya kritis, namun tetap santun dan beretika,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak terjebak pada budaya kejar tayang di era digital.
Menurutnya, kecepatan menyebarkan informasi tanpa verifikasi justru dapat merusak kredibilitas jurnalis, terlebih bagi jurnalis kampus yang sedang membangun reputasi.
“Kecepatan itu penting, tapi verifikasi dan tanggung jawab moral jauh lebih utama,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa BEM UMSi, Muh. Mahdi Akif, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas Komunikasi dan Publikasi Kemahasiswaan”.
Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan mahasiswa di tengah derasnya arus informasi digital.
Mahdi berharap pelatihan ini mampu melahirkan jurnalis-jurnalis muda kampus yang profesional, kritis, dan berintegritas, serta mampu menjadi corong informasi yang edukatif bagi lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
“Di zaman digital, mahasiswa harus cerdas bermedia sosial. Informasi yang disampaikan tidak hanya cepat, tetapi juga mencerahkan dan bernilai positif,” ujarnya.
Selain Muh. Izhar, panitia pelatihan juga menghadirkan sejumlah pemateri lain yang kompeten di bidang komunikasi dan jurnalistik guna memperkaya wawasan serta keterampilan peserta.


Comment