BERITA.NEWS, Bulukumba — Momen khidmat Rapat Paripurna Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bulukumba ke-66 mendadak berubah tegang.
Dua aktivis perempuan secara bergantian menyerobot jalannya sidang paripurna yang berlangsung di Gedung DPRD Bulukumba, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Ujung Bulu, Rabu (4/2/2026).
Kedua aktivis tersebut diketahui bernama Anjar Sumiana Masiga dan Nilam Mayasari.
Anjar merupakan aktivis perempuan dari Kolaborasi Biru, sementara Nilam menjabat sebagai Ketua KOPRI PMII Bulukumba.
Awalnya, rapat paripurna yang dihadiri Ketua DPRD Bulukumba Umy Nasyiatun Khadijah, Wakil Ketua DPRD Pahidin HDK, Staf Ahli Gubernur Sulsel, serta Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf berlangsung lancar dan tertib.
Di luar gedung DPRD, dua lembaga swadaya masyarakat yakni PATI dan Gerakan Perlawanan Rakyat lebih dulu menyampaikan aspirasi melalui aksi orasi.
Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian dibantu Satpol PP.
Namun situasi berubah ketika dua aktivis masuk ke ruang paripurna.
Di tengah jalannya sidang, Anjar Sumiana Masiga tiba-tiba berdiri dan melakukan orasi tunggal sambil membawa poster penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik pupuk PT Petrokimia di Kecamatan Bontobahari.
Dalam orasinya, Anjar menilai rencana pendirian pabrik pupuk tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap ekologi lingkungan dan mengancam kelangsungan hidup makhluk hidup di sekitarnya.
Aksi Anjar tak berlangsung lama. Petugas keamanan DPRD segera mengamankannya dan membawanya keluar ruangan paripurna untuk ditenangkan.
Berselang sekitar 15 menit, situasi kembali memanas. Nilam Mayasari melakukan aksi serupa dengan berorasi tepat di depan meja pimpinan sidang.
Ketua DPRD Bulukumba, Umy Nasyiatun Khadijah, bahkan sempat menghentikan pidatonya sejenak dan memperhatikan Nilam yang tengah menyampaikan aspirasi.
Suasana ruang sidang tampak gaduh. Sejumlah tamu undangan menoleh, termasuk Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf.
Tak lama berselang, petugas keamanan kembali membawa Nilam keluar dari ruang paripurna.
Setelah kedua aktivis diamankan, Ketua DPRD Bulukumba melanjutkan pembacaan sambutan rapat paripurna Hari Jadi Kabupaten Bulukumba ke-66.
Kepada media, Nilam Mayasari mengungkapkan bahwa aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk pengingat kepada pemerintah daerah dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
“Kami menilai rencana pendirian pabrik pupuk di Bontobahari tidak tepat karena berpotensi merusak lingkungan. Olehnya itu, sejak awal kami menyampaikan penolakan sebagai pengingat kepada pemerintah,” ujar Nilam.
Pemkab Bulukumba Sesalkan Aksi Serobot
Menanggapi kejadian tersebut, Humas Pemerintah Kabupaten Bulukumba Andi Ayatullah menyayangkan aksi penyerobotan rapat paripurna yang dilakukan oleh para aktivis.
Menurutnya, meski setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, momentum penyampaian aspirasi dinilai tidak tepat.
“Hari Jadi Kabupaten Bulukumba merupakan momentum penting bagi daerah ini. Aspirasi yang disampaikan tidak relevan dengan agenda rapat paripurna, sehingga terkesan hanya merusak suasana peringatan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa aspirasi seharusnya disampaikan di forum atau kesempatan lain, bukan di tengah acara resmi yang berlangsung khidmat.


Comment