BERITA.NEWS, Sinjai — Perubahan cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir mulai menampakkan dampak serius bagi sektor pertanian di Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai.
Sejumlah sawah warga di Desa Gareccing dan Kelurahan Sangiasserri dilaporkan mengalami kekeringan parah, meski usia tanaman padi baru menginjak sekitar satu bulan.
Kondisi ini membuat hamparan sawah yang seharusnya hijau justru mulai menguning. Petani mengaku resah karena tanaman padi terancam gagal tumbuh optimal bahkan berisiko gagal panen.
Minimnya curah hujan yang dibarengi angin kencang disebut sebagai pemicu utama berkurangnya pasokan air ke saluran irigasi.
Ironisnya, sebagian besar lahan pertanian di wilayah tersebut masih sangat bergantung pada air hujan karena debit air irigasi dinilai belum memadai.
“Selama cuaca berubah-ubah dan angin kencang, air di irigasi berkurang sehingga sawah mengering,” ujar Syarif, salah seorang petani setempat, Kamis (29/1/2026).
Ia menegaskan, tanpa hujan yang cukup, harapan petani untuk mendapatkan hasil panen maksimal semakin menipis.
Bahkan, menurutnya, jika hujan tak turun selama sepuluh hari, sawah akan langsung mengalami kekeringan.
“Sawah di daerah ini bergantung pada air hujan. Air irigasi dari Sungai Apareng tidak mampu mencukupi kebutuhan,” keluhnya.
Di tengah kondisi yang kian memprihatinkan, petani kembali menyoroti proyek Bendungan dan Irigasi Apareng III yang dinilai mangkrak.
Proyek yang dimulai pada tahun 2020 tersebut diketahui menelan anggaran lebih dari Rp3,5 miliar, namun hingga kini belum dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Warga berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera melanjutkan dan menuntaskan proyek yang dikerjakan oleh PT Putra Utama Global tersebut agar krisis air pertanian tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sinjai, Kamaruddin, menyarankan petani terdampak untuk memanfaatkan bantuan mesin pompa air yang tersedia di Unit Pelaksana Teknis (UPT) pertanian di tingkat kecamatan.
“Bisa meminjam pompa di UPT pertanian di kecamatan bagi petani yang sawahnya kekurangan air, dengan memanfaatkan sumber air yang ada,” jelasnya.
Namun, solusi tersebut dinilai bersifat sementara. Setiap tahunnya, sebagian wilayah pertanian di Sinjai Selatan masih bergantung pada hujan akibat keterbatasan sistem irigasi permanen, membuat petani terus berada dalam bayang-bayang ancaman gagal panen.


Comment