BERITA.NEWS, Parepare — Sorotan publik terhadap proyek rehabilitasi Masjid Terapung Kota Parepare, Sulawesi Selatan, semakin tajam.
Proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) itu kini tak hanya menuai kritik soal kualitas pengerjaan, tetapi juga memunculkan dugaan kuat praktik monopoli yang menyeret nama Fery Tan, pengusaha besar yang cukup dikenal di Parepare. Ahad (11/1/2026).
Informasi yang dihimpun BERITA.NEWS menyebutkan, proyek rehabilitasi Masjid Terapung tersebut terbagi dalam lima item kegiatan yang secara administratif dikerjakan oleh lima kontraktor berbeda.
Namun, sejumlah sumber internal menyebut pola pengerjaannya mengarah pada satu kendali yang sama.
Dalam pusaran dugaan itu, nama Fery Tan mencuat sebagai figur sentral yang disebut-sebut memiliki pengaruh besar di balik proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Meski belum ada pernyataan resmi, isu keterlibatan pengusaha tersebut terus bergulir di tengah publik.
Sejumlah kontraktor lokal mengaku hanya menjadi penonton. Mereka menyebut peluang untuk terlibat dalam proyek strategis daerah itu nyaris tertutup rapat.
“Sekarang kontraktor kecil banyak yang tumbang. Kalau tidak ikut ‘aturan main’, jangan harap dapat proyek. Yang dapat itu-itu saja. Padahal kami tahu, beberapa pekerjaan mereka juga bermasalah,” ungkap seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Waktu Singkat, Mutu Dipertanyakan
Sorotan tak berhenti pada dugaan monopoli. Durasi pengerjaan proyek juga menuai tanda tanya besar.
Salah satu pelaksana proyek di lapangan membenarkan bahwa total nilai anggaran proyek mencapai miliaran rupiah, namun waktu pengerjaannya dinilai tidak masuk akal.
Proyek diketahui mulai dikerjakan pada 4 Desember 2025 dan ditargetkan rampung 31 Desember 2025, atau kurang dari satu bulan.
“Dengan volume pekerjaan sebesar itu dan waktu sesingkat ini, sulit berharap hasilnya maksimal,” ujarnya.
Pantauan tim di lapangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Sejumlah pekerjaan dilaporkan bermasalah, mulai dari dugaan kubah masjid bocor, pelataran tanpa besi sesuai spesifikasi, hingga tanggul pengaman ombak yang terlihat rapuh. Lemahnya pengawasan disebut membuka ruang pengerjaan asal-asalan.
Nama Besar, Keresahan Besar
Bagi kontraktor lokal, proyek rehabilitasi Masjid Terapung Parepare kini dianggap sebagai simbol ketimpangan.
Di tengah keterbatasan akses dan peluang, muncul anggapan adanya “raksasa proyek” yang menguasai pekerjaan dari balik layar.
Nama Fery Tan pun menjadi bahan perbincangan luas, seiring desas-desus dugaan praktik pengaturan proyek dan fee yang disebut kian mengakar.
Versi Dinas PU dan Isu Administrasi
PPTK Dinas Pekerjaan Umum Kota Parepare, Iswandi, membenarkan bahwa proyek rehabilitasi Masjid Terapung terdiri dari lima item pekerjaan.
Ia juga menyebut seluruh paket tersebut dikenakan denda akibat keterlambatan.
Hingga berita ini diturunkan, BERITA.NEWS masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait. (Tim)


Comment