Terdakwa Kasus Penipuan Arhan Rahim Klarifikasi Terkait Pernyataan Pelapor

BERITA.NEWS, Makassar – Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan, Arham Rahim akhirnya memberikan klarifikasi terkait pernyataan dari pelapor sebelumnya.

Menurutnya, ada beberapa kejanggalan terkait pernyataan yang dikeluarkan oleh Nur Safri selaku pelapor.

Ia mengakui bahwa tidak mengenal Nur Safri melainkan hanya mengenal Jufri selaku temannya pelapor. Bahkan proses pinjam meminjam uang melalui Jufri bukan Nur Safri.

“Saya tidak pernah terima uang itu dari Nur Safri, tapi melalui Jufri,” ungkapnya, Kamis (20/6/2024) malam.

Dia menerangkan bahwa dirinya terpaksa meminjam uang untuk menyelesaikan pembangunan proyek kantor Kejaksaan Negeri Makassar yang tidak sesuai RAB dengan gambar.

Contohnya, di gambar itu anggarannya untuk pemancangan hanya 50 titik, ternyata di gambar 62 titik, berarti 12 titik tidak ada anggarannya.

Pada awalnya ia pinjam Rp300 juta, nanti kembali Rp 350 juta, pokoknya bunganya 10 persen.

“Kemudian saya kembalikan di bulan oktober, saudara Jufri ini, temannya Nur Safri menghubungi saya bilang masih butuh dana. Saya bilang belum,” terangnya.

Pada Desember mereka datang ke lokasi, ini dana yang dikembalikan kemarin dia bilang masih ada, tapi saat ia bilang ya udah tapi tidak ada jaminan. Ia mengaku bahwa pinjaman sekitar Rp 1,1 miliar sama bunganya 10 persen.

“Saya terima uang itu bukan dari Nur Safri melainkan dari Jufri. Uang saya terima Rp 1,1,50 sama bunganya,” ujarnya.

Arhan Rahim mengaku sudah mengembalikan uang secara bertahap kepada pelapor.

“Ada Rp 500 juta saya transfer, otomatis 500 juta itu ceknya kembali sama saya. Nah ini tidak, kemudian minta lagi 500 juta, bahkan sampai minta Rp 2 M pada saat itu,” bebernya.

“Secara hukum, ini cek 500 juta sudah dibayar namun tidak dikembalikan, dia paksakan cairkan untuk dijadikan bukti bahwasanya saya melakukan penipuan,” cetusnya.

Meski sudah divonis selama 3 tahun oleh Pengadilan Negeri Makassar, ia melakukan banding di Pangadilan Tinggi Makassar..

“Saya ini mau cari keadilan. Ini belum inkracht, belum selesai, saya kasasi. Sampai detik ini dia minta damai tapi saya bilang apanya mau damai, saya sudah dipenjara,” ungkapnya.

Dia menyangkal terkait dirinya yang merupakan DPO. “Katanya saya DPO. DPO dari mana, kalau di panggil saya datang. Tapi dia tetap maksa untuk bayar bunganya, tiba-tiba saya DPO, saya telepon penyidik bilang kenapa saya DPO, kan rumah saya di tahu,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, korban penipuan dan penggelapan, Nur Safri mengaku keberatan karena terdakwa hingga saat belum ada kepastian penahanan.

“Dalam hal ini saya berharap Kejaksaan untuk segera menindaklanjuti untuk menahan orang ini karena pada saat penyidikan di Polda dia tidak
kooperatif dan masuk menjadi DPO,” kata Nur Safri Rachman, Kamis beberapa waktu lalu.

Nur Safri mendengar kabar bahwa terdakwa Arhan Rahim tidak ditahan lantaran melakukan banding ke Pengadilan Tinggi.

“Harusnya Kejaksaan bisa menahan karena ini terdakwa kadang tidak kooperatif. Pernah kami dipanggil oleh jaksa tapi dia (Arham Rahim) tidak pernah datang,” tutur.

Ini Berita Sebelumnya:

 

https://berita.news/2024/06/13/divonis-3-tahun-oleh-pengadilan-negeri-makassar-korban-pertanyakan-terkait-terdakwa-belum-ditahan/

https://berita.news/2024/06/13/nur-safri-rachman-harap-aph-periksa-tppu-terdakwa-kasus-penipuan/

Comment