Merasa Dirugikan, Anak Eks Dosen Unhas Harap Penyidik Lakukan Ini

BERITA.NEWS, Makassar – Setelah Mandek di BPN Sulsel dan BPN Kota Makassar, kini kasus dugaan

perampasan tanah yang dialami oleh eks Dosen Unhas, Tambaru P kini tengah ditangani Polrestabes Makassar.

Musa Kadar Khan selaku anak anak eks dosen Unhas mengatakan pihak ATR / BPN Kota Makassar, telah menyerahkan fotocopy Warkah SHM No. 20690, SHM No.20695 dan SHM No. 20696 / Kel Lembo, kepada penyelidik Polrestabes Makassar sesuai tanda terima tanggal 12 Oktober 2022, dan telah melakukan permintaan keterangan /interogasi terhadap Lurah Lembo dan Camat Tallo.

“Saya sebagai anak eks Dosen Unhas meminta kepada penyidik agar kasus ini segera ditangani secepat. Terutama melakukan pemeriksaan terhadap Karina selaku terlapor,” ujar Musa beberapa hari lalu.

Musa menambahkan penyidik di Polrestabes Makassar pernah mengatakan akan melakukan tindak tegas terhadap terlapor. Apalagi sudah diperiksa sebanyak tiga kali.

“Dulu kan penyidik pernah bilang bahwa kalau terlapor tidak kooperatif, atau menghalangi penyidikan, bisa dilakukan pemeriksaan paksa dia sebut akan langsung turun ke lapangan,” lanjut Musa.

Musa menyebutkan, sesuai dengan SP2HP yang Ia terima, penyidik mengalami hambatan dalam proses penyelidikan dokumen asli dari Surat Keterangan ahli waris dan Surat Pernyataan ahli waris masing-masing tanggal 4 November 2015, yang dibuat dan ditanda tangani oleh Karina Tambaru Yahya selaku terlapor sebagai obyek perkara tindak pidana pemalsuan.

Musa menjelaskan, ketika penyidik mencarinya di Kelurahan Lembo, surat aslinya juga tidak ditemukan karena, Kantor Lurah Lembo pernah mengalami banjir dan semua buku-buku register terendam air.

“Namun pihak kelurahan membenarkan bahwa kedua surat tersebut teregister di sistem Kelurahan,” katanya,

Kini, penyidik tengah mencari keberadaan asli dari surat tersebut, melalui Karina Tambaru Yahya.

Musa mengaku bahwa Karina telah diperiksa sebanyak tiga kali oleh penyidik kepolisian dan membenarkan bahwa surat aslinya berada di pihaknya, namun di setiap pemeriksaan ia memberikan keterangan yang berbeda.

“Setiap pemeriksaan tiga kali, terlapor memberikan keterangan yang berbeda, keterangan pertama dia bilang itu hilang, kedua dia bilang ada di kuasa hukumnya, yang ketiga ada di pengurusnya,” bebernya.