Korban Pelecehan Seksual Anak di Jeneponto Jalani Perawatan Intensif di RS Unhas

BERITA.NEWS,Makassar– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk KB) Provinsi Sulsel lakukan pendampingan korban pelecehan seksual anak asal Jeneponto.

UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A-Dalduk KB Provinsi saat tengah mendampingi dan memantau kondisi SM, anak berusia 7 tahun asal Jeneponto.

Saat ini korban tengah menjalani perawatan dan observasi di Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Unhas di dampingi Ibu korban dan

Kepala Seksi Tindak Lanjut UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sulsel.

“Kondisi terkini korban saat ini masih dalam pantauan, juga sudah lakukan pemeriksaan laboratorium untuk diagnosa

supaya segera bisa tindaki hari ini,” kata Kepala UPT PPA Dinas Sulsel, Meisy Papayungan, Senin, (1/7/2022).

Baca Juga :  Pemprov Sulsel - IKA Unhas Berikan Layanan Kesehatan Gratis di Bone

Meisy mengatakan, korban pelecehan dirujuk dari Kabupaten Jeneponto pada Senin (1/7) pukul 4 subuh. Kemudian korban segera mendapat pendampingan UPT PPA Sulsel jalani perawatan medis di RS Unhas.

“Pasien rujuk jam 4 subuh, kami terima informasi jam 6 pagi segera sudah ada tim di sana, ada kepala Seksi Tindak Lanjut UPT PPA Sulsel,

kemudian tadi juga saya berkoordinasi langsung dengan pihak rumah sakit untuk bagaimana penganan selanjutnya,” tutur Meisy.

Ia melanjutkan, selain berfokus pada tindakan medis. Pihak UPT PPA juga mendampingi Ibu korban baik dalam berkonsultasi dengan pihak rumah sakit maupun menyediakan kebutuhan spesifik bagi korban dan keluarganya.

“Sekarang ini kami fokus pendampingan untuk tindakan medis korban, kami juga mendampingi keluarga yakni orang tua korban,

Baca Juga :  Disbudpar Sulsel 'Ngopi Bawah Pohon', Diskusi Santai Pariwisata

karena tidak tau tindakan-tindakan apa jika konsul dengan dokter, beliau juga masih trauma dan sedih kaget anaknya menjadi korban,” tutur Meisy.

“Kami juga sudah antisipasi dengan menyediakan kebutuhan spesifik, baik pakaian, susu, apapun kebutuhan spesifik kami sudah siapkan,”sebutnya.

Meisy mengatakan korban saat ini masih lebih banyak diam. Pihaknya pun melakukan upaya pendekatan psikologi.