Bupati Luwu Terima Penghargaan dari ITB Nobel Indonesia

BERITA.NEWS, Makassar – Bupati Luwu, Dr. Drs. H. Basmin Mattayang menjadi tamu kehormatan pada wiasuda sarjana ke XVIII dan Pascasarjana ke XI, Inastitut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia di Phinisi Ballroom Hotel Claro, Jalan A.P.Pettarani, Selasa (31/5) siang.

Hadirnya Basmin, sekaligus menerima penghargaan Dalam Nobel Education Award dari kampus yang memiliki tagline Home For Entrepreneur tersebut. Orang nomor satu di Kabupaten Luwu itu dianggap sosok yang memiliki peran dan pengaruh besar terhadap pengembangan pendidikan.

Sebanyak 280 Mahasiswa resmi dikukuhkan sebagai sarjana 87 diantaranya berasal dari Mahasiswa Strata Satu (S1) dan 193 dari Mahasiswa S2. Acara yang berlangsung mulai 08.00 WITA dihadiri oleh Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Dr.Ir.H.Badaruddin, S.T., M.M. beserta jajaran.

Dalam sambutannya, alumni perkapalan itu menyampaikan, Mahasiswa S1 yang baru lulus resmi membawa ijazah serta bisnis masing-masing. “Selain itu juga terdapat 193 magister baru yang akan membawa mindset entrepereneur dalam aktifitas pekerjaannya baik sebagai pegawai maupun sebagai professional,” urainya.

Hal ini, kata Badaruddin semakin mengkukuhkan Nobel Indonesia tetap konsisten melahirkan alumni yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Pihaknya terus tetap berkomitmen bahwa kita akan melahirkan alumni yang memiliki bekal untuk survive dalam hidup sehingga tidak perlu menjadi sarjana pengangguran

Baca Juga :  Hadiri Upacara Rambu Solo di Bastem, Basmin: Kita Satu Rumpun Keluarga Luwu

“Pembelajaran menjadi entrepreneur bukan semata belajar menjadi pebisnis. Tetapi ini soal bagaimana mengajarkan mindset seorang entrepreneur. Entrepreneural mindset lah yang menjadi jawaban soft skill yang dibutuhkan di masa depan yang kita kenal dengan 5C, yaitu Creative, Communication, Collaboration, Critical Thinking dan Complex Problem Solving,” tuturnya

Pembentukan entrepreneural mindset tidak akan berhasil kalau hanya diomongkan, harus dilatihkan sehingga menjadi kebiasaan. Kata Badar, Mahasiswa Nobel Indonesia dilatih membangun bisnis mereka sendiri untuk “memaksa” mereka lebih kreatif melihat peluang, dari membangun bisnis mereka terlatih berkomunikasi dan berkolaborasi, merasakan adrenalin dalam mengambil keputusan dan resiko bisnis.

“Intinya mereka berada dilingkungan yang tepat untuk membangun mindset tersebut.Lalu apakah semua lulusan harus jadi pengusaha ? Tentu itu sebuah pilihan. Kalaupun tidak menjadi pebisnis, lulusan yang menjadi pegawai atau professional yang memiliki entrepreneurial mindset akan lebih kompetitif. Kita percaya bahwa pegawai atau karyawan yang berjiwa entrepreneur akan lebih kreatif, terampil dalam mengambil keputusan, mampu memperhitungkan resiko dan sejumlah nilai-nilai baik dalam menunjang karirnya,” kata Alumni Unhas itu.

Baca Juga :  Syukuran HUT Bhayangkara, Kapolres Luwu Tegaskan Tugas Polri Lebih Baik

“Untuk menjaga kualitas luaran yang demikian, Nobel Indonesia terus meningkatkan kualitas tenaga pengajarnya. Kami juga percaya bahwa kualitas luaran sebuah perguruan tinggi akan sangat ditentukan oleh kualitas tenaga pengajarnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, Rektor yang baru meraih gelar Insnyur di UMI Makassar ini menambahkan, pihaknya terus mendorong tenaga dosen untuk melanjutkan studi pada jenjang Strata-3.

Dari 109 Orang Dosen Tetap Nobel Indonesia dengan 65 orang diantaranya sudah bergelar Doktor, dan 24 orang dosen sedang menemp’uh Pendidikan S3 orang yang berangsur-angsur akan segera selesai. Ini berarti bahwa tenaga pengajar Nobel Indonesia akan menjadi 80 % bergelar Doktor dan kita pernah diberikan penghargaan oleh LLDIKTI Wilayah Sultan Batara sebagai Perguruan Tinggi dengan Rasio Dosen bergelar Doktor tertinggi di Wilayah Sultan Batara,” tukasnya.