Sandera Milisi Al Houthi Asal Sulsel Akhirnya Kembali ke Keluarga

BERITA.NEWS,Makassar– Momen haru bercampur bahagia menyelimuti keluarga Surya Hidayat Pratama, Anak Buah Kapal (ABK) yang jadi sandera Milisi Al Houthi di Yaman. Kamis (28/4/2022).

Ia berhasil berkumpul dengan keluarganya, Selasa, 26 April 2022, dini hari.

Surya pulang di dampingi oleh Kementerian Luar Negeri dan disambut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemprov Sulsel, Asriady Sulaiman di Makassar. Kepulangannya di sambut haru oleh keluarga.

“Pertama ketemu dengan keluarga tadi pagi, saya serasa mimpi,” ujar Surya, Selasa, (26/4/2022).

Ia mengaku sempat khawatir tidak bisa pulang. Namun berkat negosiasi oleh sejumlah pihak, ia bisa pulang dengan lancar dan aman.

Banyak pihak yang berperan penting dalam kepulangan Surya. Salah satunya negosiasi yang di lakukan oleh pemerintah Kesultanan Oman dengan pemerintah Yaman.

“Lalu ada KBRI di Oman dan Abu Dhabi. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya.

Surya adalah chief officer yang bekerja di Kapal Rwabee berbendera Persatuan Emirat Arab (PEA). Kapal itu di sandera oleh Milisi Al Houthi saat bersandar di perairan Yaman pada 3 Januari 2022 lalu.

Selama di tahan, Surya mengaku dapat perlakuan dengan baik. Semua kebutuhan hidupnya juga terpenuhi oleh penyandera.

Baca Juga :  Andalan Gagas Infaq dan Sedekah ASN Pemprov Sulsel Bantu Dhuafa

“Semua hak-hak dasar saya seperti makan, sembayang dan komunikasi dengan keluarga di penuhi. Saya di tahan di hotel,” tambahnya.

Surya di tahan 110 hari. Ia juga mengaku tidak pernah dapat intimidasi oleh penyandera.

Pihak Milisi Al Houthi bahkan tidak meminta tebusan sama sekali. Kata Surya, sejak awal mereka menjamin bahwa ia akan dipulangkan dengan baik ke Indonesia.

“Saya dikasih tahu mereka, Insya Allah kamu bakalan pulang, cuma ini masalah waktu. Karena dari pihak mereka sama sekali tidak minta tebusan apapun.

Kami pun tempatkan di hotel. Semua biaya ditanggung mereka,” ungkapnya.

Surya masih ingat betul awal kapal itu di sandera. Ia mengaku ketakutan karena ini adalah kejadian pertama kali baginya.

Namun, penyandera meyakinkan bahwa crew kapal bukan musuh mereka. Hanya saja karena kapal itu berbendera Abu Dhabi.

“Abu Dhabi itu musuh mereka tapi untuk crewnya bukan ancaman. Jadi kita perlakukan baik. Hanya saja saya juga was-was, karena kita masuk di daerah perang,” ungkapnya.

Baca Juga :  Andalan Gagas Infaq dan Sedekah ASN Pemprov Sulsel Bantu Dhuafa

Kini, Surya sudah berkumpul dengan keluarganya. Momen yang sangat ia rindukan tiga bulan lebih.

Apalagi di bulan puasa ini. Ia sangat ingin menikmati indahnya buka bersama dengan keluarga.

“Saya sangat rindu jalangkote. Momen yang paling saya rindukan selama di tahan adalah berbuka puasa dengan keluarga,” katanya.

Surya mengaku sedikit trauma dengan kejadian ini. Namun karena profesinya sebagai pelayar, ia tetap ingin bekerja di kapal.

“Profesi saya ya ini (pelayaran). Saya harus tetap bekerja di kapal, tapi kalau tujuan ke Timur Tengah kayaknya sudah tidak mau,” tandasnnya.

Sementara, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Pemprov Sulsel Asriady Sulaiman berterima kasih ke Kementerian Luar Negeri. Berkat usaha mereka, Surya berhasil kembalik ke keluarganya.

Asriady mengaku sudah yakin dari awal mediasi yang di lakukan pemerintah akan berhasil. Apalagi kasus penyanderaan seperti ini bukan yang pertama kalinya.