KIPI Sulsel: Pelajar dan Lansia Meninggal di Bone Bukan Karena Vaksin Covid-19

BERITA.NEWS,Makassar– Komite Daerah (Komda) Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi/Vaksinasi (PP KIPI) Sulawesi Selatan (Sulsel) telah melakukan kajian atas kejadian dua warga di Kabupaten Bone yang diduga meninggal akibat dampak Vaksinasi. Kamis (6/1/2022).

Komda KIPI dr Martira Maddeppungeng mengatakan sudah menerima laporan hasil kajian tim di lapangan. Ia menegaskan kedua warga itu. Pelajar Andi Nur Widya (AW) 13 tahun, warga Desa Gattareng dan Lansia Seleng (S) 80 Tahun, warga Dusun Batu Lappa Desa Samaenre Kecamatan Bengo meninggal bukan karena vaksin.

“KIPI Sulawesi Selatan bersama dengan Komite Nasional ( KOMNAS) PP KIPI, BPOM dan Kemkes telah melakukan pengkajian dan causality assessment dan menyimpulkan bahwa penyebab kematian Almarhum Tuan S dan Almarhumah Pelajar AW tidak terkait vaksinasi Covid-19,” ucapnya di Kantor Dinkes Sulsel.

Martira menjelaskan Almarhum Tuan S mendapat vaksinasi covid-19 pertama pada 23 Desember 2021, ia memiliki riwayat hipertensi lama, dari pemeriksaan tekanan darah yang didapatkan, besar kemungkinan pasien tidak rutin minum obat dan tidak rutin kontrol ke dokter. 26 Desember dilaporkan meninggal dunia.

Baca Juga :  Soal Ambruknya Plafon SDN 146 Bontokanang, LAKSUS Desak Polda Lakukan Pengusutan

“Pada tahun ini juga almarhum telah mengalami rawat inap 4 kali karena sakit. Terakhir rawat inap dengan gejala pucat (Hb 4 gr/dl) dan nyeri lambung serta buang air besar warna hitam. Pada tang 24 Desember sekitar pukul 18.00 mengalami gejala pusing, ada muntah dan almarhum mengalami mimisan dan kesadaran menurun,” ujarnya.

Telah mendapat pertolongan dan dianjurkan rujuk ke RS namun keluarga menolak. Pada 26 Desember 2021 sekitar pukul 07.00 bidan melaporkan Tn S telah meninggal.

Sementara itu, Almarhumah Pelajar AW. telah mendapat vaksinasi Sinovac dosis pertama pada 26 Oktober 2021 dan dosis kedua 23 November 2021 di Puskesmas Patimpeng Bone. Setelah melalui skrining tak dijumpai adanya kontra indikasi.

Baca Juga :  Presiden Resmi Berhentikan NA Sebagai Gubernur Sulsel

“Sekitar 16 hari setelah vaksinasi, pasien berkunjung ke Poliklinik Puskesmas Salomekko dengan keluhan bengkak dan nyeri pada punggung belakang kanan dan mendapatkan pengobatan dan kontrol tanggal 13 Desember 2021 (sekitar 20 hari setelah vaksinasi),” jelasnya.

“Keluhan yang sama dan dokter puskesmas melanjutkan pemberian terapi obat Ibuprofen, dexametasone, dan vitamin C. anak mulai sesak namun ringan. Pada 21 Desember 2021 (28 hari ) sore hari pemeriksaan dokter puskesmas mendapatkan kondisi anak tampak sesak dengan saturasi 55 persen tanpa oksigen,” ujarnya.

Andi Khaerul