Aksi Setop Stunting, Plt Gubernur Fokus Turunkan Stunting di Sulsel

Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman (Ist)

BERITA.NEWS, Makassar– Permasalahan stunting masih menjadi fokus Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di tahun 2022. Meski angka stunting sudah turun, bahkan melebihi target pemerintah pusat.

Dari target pemerintah pusat untuk menurunkan angka stunting pada tahun 2024 diangka 14 persen, sementara di Sulsel bulan Agustus tahun 2021, angka stunting berada pada angka 9,08 persen.

Melalui program Aksi Setop Stunting, tahun 2022 Pemerintah Provinsi Sulsel memberikan perhatian penurunan stunting di seluruh Kabupaten/Kota di Sulsel.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sulsel, Husni Thamrin, menyampaikan, angka stunting di Sulsel mulai turun signifikan hingga melampaui target pemerintah pusat. Angka stunting di Sulsel pada tahun 2018 mencapai 35,6 persen (Riskesda 2018), sedangkan tahun 2019 angka stunting menurun hingga 30,5 persen (SSGBI 2019).

Data ePPGBM Elektronik Pencatatan & Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat, angka stunting tahun 2020 pada bulan Februari 12,3 persen, dan bulan Agustus 11 persen.

Baca Juga :  Pemprov Sulsel Gelar Turnamen Korpri Cup 1 Antar OPD

“Di tahun 2021 bulan Februari, angka stunting menurun hingga 9,6 persen dan bulan Agustus turun hingga 9,08 persen,” ujarnya, senin (6/12/2021).

Menurutnya, capaian ini tidak terlepas dari sinergitas bersama melalui arahan dari Pelaksana Tugas Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.

Sementara itu, Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan, tahun 2022, pemerintah akan fokus penurunan stunting di 24 Kabupaten/Kota di Sulsel.
Dimana, setiap Kabupaten/Kota, dipilih 10 Desa yang tinggi angka stunting untuk menjadi lokus pada Aksi Setop Stunting ini. Jadi, total desa lokus penurunan stunting di Sulsel sebanyak 240 Desa.

Dalam Aksi Setop Stunting ini, akan melibatkan tenaga pendamping gizi. Mereka akan menetap di desa selama 8 bulan bertugas dalam pendampingan untuk keluarga.

“Para pendamping gizi ini akan melakukan pendampingan gizi kepada keluarga pada 1.000 hari pertama kehidupan dan memberikan paket intervensi gizi pada anak dan ibu hamil untuk desa lokus stunting di 24 Kabupaten/Kota. Para pendamping juga akan mensosialisasikan dalam perubahan perilaku pengasuhan kehamilan agar tidak melahirkan anak dalam kondisi stunting,” jelasnya.

Baca Juga :  Tertibkan Aset Latanete Plaza, Pemprov Kosongkan Wisma RedDoorz

Pendamping gizi ini juga bertugas dalam memberikan edukasi perubahan perilaku pada remaja putri, ibu hamil dan ibu yang memiliki balita.

“Dalam Aksi Setop Stunting ini juga, kita melibatkan tim penggerak PKK, apalagi mengingat PKK memiliki jejaring sampai di desa dengan ranah pembinaan keluarga,” pungkasnya.

Ia berharap, dengan menekan angka stunting ini, akan memberikan pengaruh dalam melahirkan generasi anak bangsa yang hebat dan membanggakan.