Digagas Zainal Basri Palaguna, Ini Sejarah Singkat Penetapan HUT Sulawesi Selatan

Rapat Paripurna HUT Sulsel ke 352 (IST)

BERITA.NEWS, Makassar– Sulawesi Selatan (Sulsel) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 352. Digelar sederhana dalam suasana Rapat Paripurna istimewa DPRD Provinsi. Selasa 19 Oktober 2021.

Peringatan HUT Sulsel ke 352 ini, dihadiri 24 Bupati dan Walikota Se-Sulsel. Ada pula Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang juga Mantan Gubernur Sulsel dua periode, secara virtual.

Momentum hari jadi tiap tahunnya merefleksikan usia provinsi Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun. Termasuk, sejarah singkat penetapan hari istimewa ini menjadi dasar yang harus diketahui oleh semua masyarakat.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Abdul Hayat Gani pun dipercaya membacakan sejarah singkat HUT Sulsel ini. Dimulai Pada Tahun 1993 H Zainal Basri Palaguna, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I ini menggagas lahirnya hari jadi Sulawesi Selatan, dengan tujuan sebagai upaya meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat.

“Gagasan ini, ditindaklanjuti dengan studi banding ke beberapa daerah dan Tudang Sipulung dalam bentuk seminar pada Tanggal 18 – 19 Juli 1995 di Ruang Pola Kantor Gubernur yang dihadiri kalangan Cendekiawan, Tokoh Masyarakat, Pinisepuh, Pimpinan Daerah Tingkat I dan Tingkat II beserta sejumlah Tokoh Daerah, Pimpinan Organisasi Politik dan Organisasi Pemuda se Sulawesi Selatan,” ucapnya.

Hayat melanjutkan, pertemuan itu untuk merumuskan hayat bersama kedalam substansi dan analog, yang menjadi simbol untuk memperkuat sinergi masyarakat dan pemerintah dalam perannya terhadap kelanjutan pembangunan daerah ini.

“Seminar ini menampilkan 19 makalah utama dan makalah kunci dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, serta sejumlah makalah sumbangan serta tulisan lainnya dari berbagai unsur secara spontan,” ujarnya.

Pada seminar ini, berhasil menjaring sejumlah keinginan berbagai kalangan yang teruji dengan pembahasan dari sejumlah cendekiawan, Forum ini memutuskan rekomendasi berupa 5 rumusan usulan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan berpijak pada momentum puncak peristiwa di Sulawesi Selatan yang layak dan pantas.

Baca Juga :  Pemprov Sulsel Raih Penghargaan Atas Implementasi QRIS Terbaik

“Pembahasan secara mendalam dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah bersama staf, sesuai usulan dan momentum puncak kejayaan peristiwa di Sulawesi Selatan dimaknai memiliki bobot nilai yang sama. Maka simpulan yang dihasilkan adalah dipandang perlu memadukan atau menggabungkan rumusan yang ada dalam sebuah rumusan yang bermakna simbolik yaitu tanggal 19 bulan Oktober Tahun 1669,” kata hayat melanjutkan naskah sejarah singkat tersebut.

Kesepakatan itu dilanjutkan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, kedalam Rancangan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, untuk meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Sulawesi Selatan melalui mekanisme Tata Tertib DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan, dan melalui Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995, DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan menyetujui dan menetapkan tanggal 19 Oktober 1669 sebagai hari jadi Sulawesi Selatan.

Ringkasan Arti dan Pemaknaan Gabungan Simbolik adalah sebagai berikut:
Tanggal 19 (Sembilan Belas) sebagai tanggal simbolik sebagai kesadaran Sulawesi Selatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana pada Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19 Agustus 1945, peserta dari Sulawesi Selatan dengan semangat dan antusias serta secara spontanitas melepaskan segala atribut kerajaan bergabung dalam negara Kesatuan Republik Indonesisa.

Bulan Oktober bermakna penting, terdapat
dua momentum simbol kebersamaan dan persatuan yang telah terjadi di wilayah ini. Pertama Kesepakatan para Raja di Kawasan Sulawesi Selatan untuk mendukung Dr. Ratulangi menjadi Gubernur pertama Propinsi Sulawesi pada tanggal 15 Oktober 1945 dan Peristiwa Rekonsiliasi Raja-Raja bersaudara yang terlibat dalam Perang Makassar, dimana Rekonsiliasi ini berlangsung pada bulan Oktober 1674.

Baca Juga :  Pemprov Sulsel Raih Penghargaan Daerah Terbaik Economic Recovery di Indonesia Award 2021

Sedangkan Tahun 1669, merujuk pada fakta dan data sejarah berakhirnya Perang Makassar. Dalam tahun tersebut, telah terjadi peristiwa heroisme yang luar biasa, dimana para tubarani telah mempertaruhkan segala daya dan upaya dalam perang 40 hari 40 malam sebelum Benteng Somba Opu dihancurkan oleh pihak penjajah. Semangat tak kenal menyerah direfleksikan para tubarani dengan melakukan gerakan hijrah ke Pulau Jawa bergabung bersama pejuang lainnya untuk menentang penjajahan yang diwariskan hingga pertengahan Abad XX.

Bagi mereka, kekalahan dalam pertempuran bukanlah menghancurkan semangat untuk melanjutkan perang, perang yang utama adalah melawan kelicikan, kesombongan dan keangkaramurkaan. Tahun 1669 adalah titik awal mulanya kesadaran seluruh masyarakat daerah yang terlibat dalam Perang Makassar, bahwa mereka telah dipecah belah oleh pihak-pihak asing yang bermaksud mengambil keuntungan dari pertentangan antara kerajaan bersaudara dan masyarakat yang masih terikat dalam pertalian darah (genealogis) yang dekat.

Pilihan tahun yang bersejarah itu, juga dimaksudkan menggugah hati nurani dan kesadaran masyarakat Sulawesi Selatan sampai kapanpun, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan secara terus menerus dari bahaya perpecahan, dengan tetap menjaga potensi kebersamaan serta mengembangkan persatuan di kalangan warga masyarakat Sulawesi Selatan, untuk terus melanjutkan Pembangunan yang bertujuan pada masyarakat sejahtera dan cinta pada tanah air.

Itulah sejarah ringkas Hari Jadi Sulawesi Selatan sejak dari gagasan awal sampai penetapan tanggal 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi resmi Sulawesi Selatan yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995.

Andi Khaerul