BI: Uang Rupiah Jangan Ditulisi, Jangan Diremas, Jangan Dirobek

BERITA.NEWS, Luwu – Tim implementasi pengelolaan uang rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel melaksanakan sosialisasi penggunaan rupiah melalui road show edukasi.

Roadshow edukasi cinta bangga paham rupiah dan qris mengambil tema “Menebar Semangat Cinta Rupiah dan Qris ke Penjuru Negeri”.

Kegiatan yang dibuka oleh Sekda Luwu, H. Sulaiman, dihadiri langsung Asisten Direktur BI Perwakilan Sulsel, Devy Ika Puspitosari, Kepala Bapenda, Muh. Rudi, Pembantu Rektor II Uncok, Kepala Bank Sulselbar, Multasanti Rahim, perwakilan Bank BNI dan Bank BRI.

Devy Ika Puspitosari dalam arahannya menyampaikan sejumlah sikap dalam menjaga dan mempertahankan rupiah agar tetap menjadi mata uang resmi dan tetap bernilai tukar.

“Rupiah kita atau uang kita jangan ditulisi, jangan diremas dan jangan dirobek. Jika kita mencintai rupiah tentu kita akan jaga dan rawat dengan baik, sesuatu yang kita cintai tentu kita jaga agar tidak rusak,” ujarnya.

Menurut Devy Ika Puspitosari, bangga akan rupiah itu merupakan sikap baik dan menjaga simbol negara. “Kita perlu munculkan kebanggaan akan rupiah sehingga muncul rasa kecintaan dan mempertahankan rupiah,” ujarnya.

Sementara itu memahami rupiah, bahwa rupiah adalah satu satunya transaksi sah di Indonesia, sehingga setiap transaksi diwajibkan menggunakan rupiah.

Baca Juga :  Forester Unhas Sukses Gelar Kegiatan Donasi Untuk Luwu

“Olehnya itu, sosialisasi ini kita harapkan hasilnya dapat disampaikan di lingkungan sekitar sehingga cinta bangga akan rupiah menjadi virus yang baik di tengah masyarakat,” serunya.

Sekda Luwu, H. Sulaiman, saat membuka kegiatan ini menyampaikan apresiasi kepada BI atas terlaksanakan kegiatan ini di Lingkup Pemkan Luwu.

“Ini merupakan atensi khusus bagi Pemerintah Kabupaten Luwu. Terima kasih, In Syaa Allah, semua itu bernilai ibadah dan akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT,” serunya.

“Rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan negara kita. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita semua selaku anak bangsa untuk memperlakukan rupiah secara tepat, menjaganya dari kejahatan pemalsuan, serta memanfaatkannya sebagai alat transaksi pembayaran resmi,” tambahnya.

Selain itu kata H. Sulaiman, rupiah juga harus dimaknai sebagai instrumen pemersatu bangsa. “Dan In Syaa Allah, dengan upaya-upaya tersebut, rasa cinta, rasa bangga serta pemahaman yang utuh akan hadir di setiap kepribadian kita selaku warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan semangat nasionalisme, pula implikasinya akan berdampak positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah di pasar mata uang asing,” lanjut Sulaiman.

Baca Juga :  Dinas PUPR Luwu Percepat Tender DAK 2022 Rp65 M

Mantan Kepala BKPSDM ini menyampaikan, edukasi rupiah yang selama ini dipahami masyarakat, masih relatif terbatas pada kelayakan kondisi fisik uang.

Olehnya itu, pemerintah melalui Bank Indonesia telah memperluas makna edukasi rupiah. Tidak hanya pada batasan alat transaksi tunai dan nontunai.

“Pula, tidak hanya sekadar fokus pada 3 D yakni dilihat, diraba, dan diterawang. Kemudian penegasan untuk tidak diremas atau dikusutkan, jangan dibasahi, dan jangan distapler. Tetapi dikemas dengan konsep edukasi yang lebih substansial dan holistik, yaitu cinta, bangga dan paham rupiah,” ujarnya.

Sekda mengatakan pentingnya konsep ECBP tersebut diharap dapat selaras sejalan dengan Bank Indonesia dalam mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat, khususnya di Kabupaten Luwu untuk betul-betul dapat menginternalisasi dan mengaktualisasikan makna nilai cinta, bangga, dan paham rupiah dengan sebaik-baiknya.

  • Muh Asri