Sejumlah Desa Buat Terobosan Inovatif Tangani Covid-19, dari Buka Call Center hingga Tempat Isolasi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo membuat program Rembug Desa untuk mengetahui penanganan Covid-19 di tingkat desa dan kelurahan.

BERITA.NEWS, Semarang – Sejumlah desa di Jawa Tengah sudah membuat terobosan dan inovasi dalam melakukan penanganan Covid-19. Mulai dari pendataan terhadap warganya yang terpapar, membuka call center, penerapan jogo tonggo, forum kesehatan, hingga menyediakan tempat isolasi.

Terobosan dan inovasi yang dilakukan sejumlah desa itu terungkap saat Rembug Desa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama ratusan kepala desa se-Kabupaten Banjarnegara secara daring, Senin (29/7/2021).

Rembug Desa merupakan program baru yang diinisiasi gubernur untuk melawan Covid-19, terutama varian Delta.

Program tersebut dilakukan dengan mendayagunakan entitas desa. Nantinya, program Rembug Desa akan dilaksanakan tiap hari per kabupaten/kota secara virtual.

Lewat rembug desa ini, sejumlah kepala desa mengemukanan strategi di masing-masing desanya dalam menangani Covid-19.

Untuk hari pertama ini, menghadirkan para kepala desa dan lurah se-Kabupaten Banjarnegara. Ada 244 lurah/kepala desa di Banjarnegara yang ikut dalam program rembuk desa.

Kepala Desa Bawang, Galih Purwandaru mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan terhadap warganya yang sedang melakukan isolasi mandiri karena terinfeksi Covid-19. Pendataan dilakukan guna memberikan pantauan lebih lanjut kepada warganya yang terpapar.

Selain itu, untuk mempermudah layanan bagi warganya, pihaknya juga telah membuka call center yang dapat digunakan warga untuk berkomunikasi terkait penanganan Covid-19.

“Ada sekitar 22 orang yang positif dan sedang isoman. Kami data, kami punya datanya. Kami juga punya call center yang melayani 24 jam untuk warga yang mau komunikasi, bertanya terkait penanganan corona di desa kami,” katanya kepada Gubernur.

Baca Juga :  Wali Kota Apresiasi OJK Gelar Vaksinasi Massal Sektor Jasa Keuangan

Pihak desa juga mengoptimalkan program Jogo Tonggo, terutama untuk membantu secara sosial kepada mereka yang sedang isolasi mandiri.

“Kami sudah menganggarkan dengan dana desa untuk penanganan Covid-19. Tapi kami juga mengoptimalkan Jogo Tonggo,” jelas Galih.

Sedangkan untuk pelaksanaan PPKM, pihaknya secara rutin melakukan operasi yustisi bekerja sama dengan TNI/Polri, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga RT/RW.

“Namun, kami lebih memilih cara persuasif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menaati prokes,” ujarnya.

Sementara Kepala Desa Gripit, Sugeng menuturkan, di desanya sempat ada dua warga yang dinyatakan positif. Namun, setelah melakukan isolasi mandiri, saat ini sudah dinyatakan sembuh.

“Ada dua warga yang positif, tapi sekarang sudah sembuh. Untuk penanganan kami sediakan tempat isolasi, tapi sejauh ini belum ditempati,” jelas Sugeng.

Sugeng juga menjelaskan sejumlah strategi yang dilakukannya, di antaranya membentuk Forum Kesehatan di tingkat RT, mengoptimalkan Jogo Tonggo, dan aktif sosialisasi terkait protokol kesehatan (prokes). Seperti memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan juga mengurangi mobilitas.

Menurutnya, ada 31 orang yang aktif dalam penanganan ini.

“Selain edukasi, kami tiap minggu ada kegiatan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat publik. Alhamdulillah sampai hari ini, hanya ada dua (orang) warga kami yang positif dan sudah sembuh. Kami juga rajin sosialisasi prokes di pasar dengan pendekatan persuasif,” tambahnya.

Baca Juga :  Kapolres Bone Serahkan Hadiah Sepeda Motor ke Tiga Pilar Desa Panyili

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengajak lurah/kades rembugan untuk ngecek betul kondisi di lapangan. Dari obrolan bersama kades-kades itu, Ganjar bisa memastikan kondisi yang terjadi.

“Tadi tiga Kades Banjarnegara saya tanya, bagaimana mengelola isoman. Mereka tahu dengan detil, tempat kami ada dua pak, kami ada tujuh Pak. Jadi tahu persis. Sehingga kalau kita mau mendistribusikan pada mereka yang sakit apakah obat atau makanan, itu mereka bantu,” jelas Ganjar.

Selain itu, Ganjar juga memastikan bagaimana penggunaan dana desa untuk penanganan Corona. Dari rembugan desa itu terbukti, lurah/kades sudah menggunakan delapan persen dana desa untuk Corona.

“Jadi dana desa sudah dipakai dari dulu, sudah lancar penggunaanya. Selain itu, Jogo Tonggo juga ternyata berjalan. Mendengar itu, saya optimis bisa menjalankan itu karena lurah/ kades relatif bisa menangani,” ujar Ganjar.

  • Yon