Kades Ini ‘Lockdown’ Tingkat RT Demi Melindungi Warga Lain di Desanya

Pintu masuk RT 01 RW 04 Dukuh Ngadipiro, Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo ditutup menyusul banyaknya warga setempat yang terpapar Covid-19. (ist)

BERITA.NEWS, Sukoharjo – Kasus Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda usai. Bahkan, di sejumlah daerah terjadi peningkatan. Beberapa tempat terpaksa memberlakukan lockdown di tingkat rukun tetangga (RT) karena banyak warganya terpapar.

Salah satu yang melakukan lockdown adalah salah satu RT di Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di desa itu, ada satu Rukun Tetangga (RT) yang di-lockdown karena tingginya kasus penularan Covid-19.

RT yang di-lockdown itu adalah RT 01 RW 04 Dukuh Ngadipiro, menyusul adanya 47 orang warga yang positif Covid-19.

Jalan utama masuk RT tersebut ditutup total dan dijaga oleh ketat oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Warga dari dalam tidak boleh keluar, sementara tamu dari luar tidak boleh masuk kampung. Lockdown dilakukan sejak 25 Juni lalu dan baru akan berakhir pada 7 Juli nanti.

Kepala Desa (Kades) Grajegan, Mujiyono, menjelaskan bahwa pihaknya memutuskan untuk lockdown di RT tersebut karena untuk melindungi warga yang lain di desanya.

“Di RT ini ada 47 orang yang positif Covid-19 karena klaster hajatan,” jelas Mujiyono, kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang melakukan kunjungan ke desa tersebut pada Rabu (30/6/2021).

Baca Juga :  Ilham Azikin Ajak Perempuan Jadi Motor Penggerak Perempuan

Mujiyono menjelaskan, untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, pihaknya menggunakan program Jogo Tonggo. Semua logistik khususnya terkait makanan, disuplai dengan cara bantuan dari warga sekitar.

“Jogo Tonggo jalan bagus. Untuk logistik aman sampai lockdown selesai 7 Juli nanti. Beberapa RT tetangga juga bantu, termasuk warga kampung yang bekerja di daerah luar. Kami juga menggunakan anggaran desa untuk mencukupi kebutuhan,” katanya.

Menurutnya, lockdown tingkat RT ia lakukan demi melindungi warga lain di desanya. Sebab sebelum lockdown, aktivitas keluar masuk warga di RT zona merah itu masih sering terjadi.

“Kalau tidak ditutup, kami khawatir akan menulari warga lainnya. Jadi kami memutuskan untuk lockdown,” jelas Mujiyono.

Pihaknya juga tidak henti-hentinya mengingatkan warga di desanya untuk selalu mematuhi protokol kesehatan (prokes), seperti memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan juga mengurangi mobilitas.

Mendengar penjelasan itu, Ganjar sangat mengapresiasi langkah Kades Grajegan, yang dengan cepat mengambil keputusan me-lockdown RT yang masuk zona merah.

“Ini contoh bagus, lockdown level RT karena terjadi penularan cukup banyak akibat klaster hajatan. Jumlahnya 47 (orang) yang positif, sehingga satu RT di-lockdown. Ini tindakan yang sudah betul,” ujar Ganjar.

Baca Juga :  Pengusaha di Demak Berikan Bantuan ke Warga Terdampak Covid-19

Ganjar meminta seluruh Kades/Lurah di Jateng tidak ragu melakukan lockdown tingkat RT apabila terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Gerakan Jogo Tonggo bisa digerakkan, kearifan lokal masyarakat untuk saling membantu bisa dioptimalkan.

“Selain itu, anggaran dana desa boleh digunakan delapan persen untuk penanganan Covid-19. Di provinsi dan kabupaten/ kota juga ada anggaran itu, delapan persennya bisa dipakai. Jadi pakai saja, tapi untuk kepentingan yang khusus. Kalau urusan permakanan, saya kira bisa di-cover dari Jogo Tonggo,” jelas Ganjar.

Ganjar melakukan sidak penanganan kasus Covid-19 di Kota Surakarta dan Sukoharjo, Rabu (30/6/2021).

Selain mengecek rumah sakit dan program vaksinasi, Ganjar juga menyempatkan melihat penanganan Covid-19 hingga level desa.

  • Yon