Jenewa Gandeng Pemprov Sulsel dan Unicef Bahas Soal ASI Eksklusif

Webiner Jenewa Gandeng Pemprov Sulsel dan Unicef Bahas Soal ASI Eksklusif . (IST)

BERITA.NEWS, Makassar – Yayasan Jenewa Madani Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi selatan (Sulsel) bersama UNICEF bahas soal ASI eksklusif, Sabtu (26/6/2021).

Pembahasan tersebut mengangkat tema “ASI FondASI GenerASI Unggul” menghadirkan pembicara handal dibidag tersebut.

Agenda ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pentingnya praktik pemberian ASI eksklusif, dan untuk mendorong praktik ASI Eksklusif di masyarakat. Direktur Jenewa Madani Indonesia, Surahmansah Said membuka secara resmi agenda tersebut.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Provinsi Sulsel, Henky Widjaja mengungkapkan, ASI Eksklusif sangat penting bagi seorang ibu. Menurut dia, ASI Eksklusif merupakan hadiah terbaik bagi seorang anak.

“Pemberian ASI Eksklusif sangat penting, bahkan bagi ibu yang terinfeksi Covid-19 tetap bisa mempraktikkan ASI Eksklusif. Disampaikan bahwa ASI Eksklusif merupakan hadiah terbaik untuk anak,” ungkap dia, Sabtu (26/6/2021).

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, H. Muhammad Husni Thamrin yang turun sebagai narasumber mengaku praktik ASI Eksklusif memiliki tantangan. Hal itu karena kurangnya paparan informasi komunikasi perubahan perilaku kepada orang tua dan pengasuh, serta maraknya promosi susu formula yang menyalahi aturan.

Di Provinsi Sulsel sebenarnya sudah mempunyai peraturan terkait pemberian ASI Eksklusif yang tertuang dalam Perda No. 6 tahun 2010 dan Pergub No. 68 tahun 2011.

“Beberapa kabupaten/kota juga sudah memiliki peraturan daerah terkait ASI Eksklusif. Harapannya adalah setiap fasilitas pelayanan kesehatan memiliki konselor ASI atau PMBA dan setiap posyandu memiliki kader motivator ASI,” ujarnya.

Selanjutnya, Ninik Sukotjo sebagai Nutrition Specialist UNICEF menyampaikan materi Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI. Ia menjelaskan bahwa kode ini sudah diluncurkan sejak 40 tahun yang lalu oleh WHO. Kode tersebut bertujuan melindungi dan mempromosikan menyusui dan memastikan praktik pemasaran dan distribusi produk pengganti ASI yang tepat.

“Walaupun sudah lama diaplikasikan, kenyataan di lapangan adalah masih maraknya promosi susu formula yang bertentangan dengan kode seperti diskon, ongkos kirim, dan berbagai bentuk promosi yang menyalahi kode,” kata dia.

“Fasilitas pelayanan kesehatan juga ditemui mempromosikan sampel susu formula kepada ibu menyusui. Hal ini tentu dapat menghambat pemberian ASI eksklusif pada anak. Masyarakat yang menemui pelanggaran kode ini dapat melaporkan melalui https://pelanggarankode.org/,” tambah dia.

Di sesi ketiga, Prof. dr. H. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D sebagai TGUPP dan Guru Besar Ilmu Gizi menyampaikan materi Strategi Perubahan Perilaku dalam Peningkatan ASI Eksklusif. Disampaikan bahwa dalam strategi komunikasi perubahan perilaku.

“Kita harus mencari ide-ide baru untuk menjangkau sasaran. Strategi komunikasi tidak harus melulu pemberian leaflet. Saat ini sudah berkembang berbagai media komunikasi, salah satunya adalah Emo-Demo atau emotional demonstration, yaitu strategi komunikasi lengkap berfokus pada perubahan perilaku yang dapat menyentuh perasaan sasaran. Diharapkan kedepan kita dapat kembangkan komunikasi dengan berbahasa daerah, untuk bisa menyentuh perasaan orang tua sehingga tidak lagi tergoda dengan tantangan-tantangan di lapangan,” ungkap dia.

Di akhir sesi dilakukan sesi tanya jawab dan ditekankan juga bahwa ibu menyusui yang terinveksi Covid-19 tetap bisa mempraktikkan IMD dan ASI eksklusif jika kondisi fisiknya memungkinkan, karena virus Covid-19 tidak ditemukan di ASI.