Ketika Klub Liga Inggris Ingin Jadi Lawan Liverpool

Pemain Everton Gylfi Sigurdsson (kiri) mengeksekusi penalti pada pertandingan Liga Inggris melawan Liverpool yang dimainkan di Stadion Anfield, Liverpool, Sabtu (20/2/2021). (ANTARA/Pool via REUTERS/PAUL ELLIS)

BERITA.NEWS, Jakarta – Beberapa musim terakhir, Liverpool menjadi salah satu klub paling menakutkan. Hampir semua lawan-lawannya takut menghadapi mereka.

Namun kali ini, klub besutan Jurgen Klopp tersebut menjadi tim yang paling diincar karena lebih sering melakukan ‘give away’ poin.

Performa Liverpool di Premier League 2020/21 mengalami perubahan yang cukup drastis pada bulan Desember. Lebih tepatnya setelah mereka berhasil menghajar Crystal Palace habis-habisan dengan skor telak 7-0.

Setelahnya, dari 11 pertandingan yang telah dilalui, the Reds hanya mampu mendapatkan dua kemenangan saja. Selain itu, Mohamed Salah dkk mengantongi tiga hasil imbang dan enam kekalahan yang empat di antaranya dirasakan baru-baru ini.

Pada akhir pekan ini, Liverpool menjamu rival sekotanya, Everton di Anfied. Sayangnya, fakta bahwa mereka bermain sebagai tuan rumah tidak mampu menyelamatkannya dari kekalahan 0-2.

Souness Kecewa Berat

Penurunan performa yang dialami Liverpool ini mengundang perhatian dari banyak orang, termasuk Graeme Souness. Ia tak menutup-nutupi perasaan kecewanya terhadap klub yang pernah ia perkuat dulu itu.

“Sebagai seorang pendukung Liverpool, saya merasakan kekecewaan yang sangat mendalam kepada tim. Mereka tidak terlihat seperti punya energi, perjuangan, ataupun agresi yang nyata,” ujarnya kepada Sky Sports.

“Saya pikir tidak ada pemain Liverpool yang bisa keluar dari lapangan itu dan berpikir ‘saya bermain bagus pada malam ini’,” lanjutnya.

Beda Dulu dan Sekarang

Aksi mereka di musim ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan dalam beberapa tahun terakhir. Terutama saat mereka berhasil menjuarai Premier League untuk pertama kalinya setelah 30 tahun pada musim kemarin.

Sebelum musim itu, Liverpool sanggup menjadi runner-up dengan selisih poin yang sangat tipis dari sang pemenang, Manchester City. Bahkan mereka mampu meraih gelar Liga Champions pada tahun yang sama.

“Saat anda memikirkan seperti apa Liverpool selama tiga tahun terakhir – tim yang tidak ingin dihadapi, tim yang selalu berada di depan, super agresif, rasanya pasti mengerikan saat menghadapi mereka,” tambahnya.

“Dan sekarang semua tim ingin bermain melawan mereka. Mereka adalah tim yang mudah dikalahkan dan itu membuat saya sakit,” pungkas Souness.

(Goal International)