Pabrik Kosmetik Ilegal di Jatiasih Beromzet Rp100 Juta Sebulan

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus (tengah) berikan keterangan dalam jumpa pers pengungkpan kasus pembuatan kosmetik ilegal di lokasi penggerebekan pabrik kosmetik ilegal di Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (29/1/2021). ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat

BERITA.NEWS, Jakarta – Polda Metro Jaya mengungkapkan pabrik kosmetik ilegal yang digerebek petugas di kawasan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, mampu memproduksi hingga 1.000 bungkus masker wajah dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.

“Omzet setiap bulan ini kurang ĺebih sampai Rp100 juta,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di pabrik ilegal yang beralamat di Jl Balaidesa, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (29/1/2021).

Setiap harinya pabrik rumahan tersebut menghabiskan 50 kilogram bahan baku dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 saset masker dalam sehari.

Baca Juga :  Buruh Bangunan Pemilik 2050 Butir Obat Daftar "G" Diringkus Sat Narkoba Polres Gowa

Masker yang tidak mempunyai izin edar tersebut juga dijual dengan harga murah baik secara daring maupun melalui reseller.

“Per kilogram Rp60 ribu, Rp2.500 sampai Rp3.000 per bungkus,” ujarnya.

Yusri menjelaskan kosmetik tak berizin tersebut telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.

“Wilayah Jawa. Kami masih dalami, karena dia sampaikan edarkan sekitar Pulau Jawa dan ditawarkan secara online,” tambahnya.

Dalam penggerebekan tersebut polisi mengamankan sebanyak 12 tersangka, salah satunya adalah pemilik pabrik yang berinisial CS. Sedangkan 11 tersangka lainnya adalah karyawan pabrik.

Baca Juga :  LHKPN Tidak Lengkap, KPK Surati 239 Penyelenggara Negara

Ditegaskannya, pabrik tersebut tidak memalsukan merek yang sudah ada di pasaran, namun membuat merek kosmetik baru namun tidak memiliki izin dari BPOM.

Atas perbuatannya para tersangka dijerat dengan Pasal 36 UU RI tahun 2009 dan atau Pasal 97 sub Pasal 196 juncto 106 KUHP tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar.

  • ANTARA