Ini Strategi Ganjar Mengantisipasi Penolakan Vaksin Covid-19

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memimpin rapat evaluasi penanganan Covid di ruang rapat kantornya di Kota Semarang, Rabu (6/1/2021). ()

BERITA.NEWS, Semarang – Vaksin corona (Covid-19) sudah tiba di Jawa Tengah. Rencananya, mulai 14 Januari akan dilakukan vaksinasi, yang dimulai dari tenaga kesehatan (nakes), tokoh publik, hingga masyarakat.

Dalam tahap awal ini Jateng telah menerima 62.560 dosis vaksin untuk Covid-19 tersebut. Vaksin akan segera didistribusikan ke 35 kabupaten/ kota di Jateng.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun telah menyiapkan langkah antisipasi agar tidak ada penolakan dari pihak yang akan diberi vaksin.

“Yang menolak vaksin itu potensinya kan kalangan masyarakat. Ini akan kita sosialisasikan,” kata Ganjar usai rapat evaluasi penanganan Covid di ruang rapat kantornya di Kota Semarang, Rabu (6/1/2021).

Ganjar menjelaskan, potensi penolakan vaksin itu biasanya karena mereka merasa tidak percaya dan tidak tahu.

Baca Juga :  PWI Gowa Silaturrahmi dengan Kapolres Gowa

Karena itu, dengan sosialisasi yang dilakukan terus menerus, maka diharapkan pihak yang berpotensi melakukan penolakan akan bisa mengerti, kemudian bersedia untuk diberi vaksin.

Apalagi nantinya tidak hanya vaksin Sinovac, tapi ada juga vaksin lain seperti Pfizer dan Moderna.

Adapun, kriteria yang dapat vaksin pertama adalah mereka yang berumur 18-59 tahun, tidak memiliki komorbiditas, tidak pernah Covid-19, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Saat ini, Pemerintah Jateng sedang menyiapkan diri siapa saja penerimanya. Termasuk kalangan nakes yang akan menjadi pihak awal diberi vaksin. “Yakni mereka yang mengurusi semua nakes, termasuk nakes TNI-Polri,” sambung Ganjar yang siap menjadi penerima vaksin yang pertama.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan, bahwa mengantisipasi adanya penolakan pemberian vaksin, maka perlu dilakukan langkah.

Baca Juga :  Kasus DBD di Parepare Menurun, Begini Penjelasan Dinkes

“Sosialisasi, edukasi yang bersifat persuasif. Jangan ada kesan dipaksa,” kata Yuli.

Menurut dia, penolakan biasanya muncul karena perasaan ragu-ragu. Oleh karena itu, vaksin diberikan kepada tokoh publik, hingga tokoh masyarakat supaya pihak lain yang berpotensi menolak, bisa mantap atau bersedia diberi vaksin. Saat ini, pihaknya tengah menunggu keputusan pusat terkait pendistribusian vaksin.

Pihaknya juga berharap masyarakat tetap menaati protokol kesehatan dalam setiap aktivitasnya, yaitu dengan menerapkan 4M, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

  • YON