Soal Cawalkot Doa Tolak Bala di Sungai Jeneberang, Ust Ikhwan Jalil Bilang Begini!

BERITA.NEWS, Makassar – Kegiatan doa tolak bala yang diikuti calon wali kota Makassar nomor urut 1, Danny Pomanto yang dilaksanakan Gerakan Masyarakat Sanata Dharma Nusantara (Gema Sadhana), di Sungai Jeneberang, Tamalate, Rabu 2 Desember ditanggapi Sekretaris Majelis Ulama Sulsel, KH Ikhwan Jalil Lc, MA.

Menurut Ustaz Ikhwan, dalam perspektif Islam, pondasi yang paling mendasar adalah aqidah , yang merupakan pokok- pokok keyakinan seorang muslim.

Dalam interaksi pada masyarakat yang majemuk, Ustadz Ikhwan mengingatkan seharusnya seorang muslim dapat tetap menjaga aqidahnya. “Ibarat ikan yang berenang dan hidup di laut tanpa harus asin tergarami,” katanya, Kamis malam, 3 November.

“Kontestasi politik terkadang mengelus dan bahkan tidak terasa bisa menggerus prinsip-prinsip seseorang bahkan pada ruang yang paling esensial pada darinya , yaitu keyakinan dan agamanya”.

Baca Juga :  Begini Cara Babinsa Sosialisasikan Prokes Covid-19 kepada Warga di Demak

Olehnya, Ustadz Ikhwan berharap, setiap kandidat muslim dalam mengejar electoral, seyogyanya dan seharusnya bisa tetap luwes berinteraksi tanpa perlu mengorbankan prinsip agama dan aqidahnya.

Ritual- ritual agama lain seharusnya dihindari dan cukup memberikan ruang kebebasan kepada setiap penganut agama menjalankan kepercayaannya tanpa perlu terlalu jauh ikut dalam ritual tersebut.

“Toleransi yang kita kembangkan seharusnya justru harus berbasis aqidah dan tauhid,” kata dia.

“Apalagi, doa dalam perspektif Islam adalah ibadah, dan ritual doa agama lain tidak boleh kita campuri dan ikut serta di situ”.

Baca Juga :  Harimau Sumatera Terjerat Perangkap Babi, Kakinya Terluka

Fenomena lain yang sering disaksikan adalah ucapan salam. “Seorang muslim setelah Assalamualaikum, kadang mengucapkan lagi salam-salam agama lain”.

Hal ini sangat patut untuk dihindari seorang muslim dengan alasan tasyabbuh atau ikut-ikutan dan meniru agama lain.

“Selain itu, makna salam itu kita tidak tahu pasti, dan mungkin bermakna kekufuran dan kesyirikan. Allah subhanahu Wa ta’ala mengingatkan; bagimu agamamu, bagiku agamaku”. (*)