Hindari Keramaian, Siswa Ini Harus Menempuh Perjalanan Jauh untuk Dapatkan Rapor

Seoarang siswa tengah menerima rapor di atas gunung. (M SRAHLIN RIFAID/BERITA.NEWS)

BERITA.NEWS, Maros – Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan bagi instansi sekolah seluruh Indonesia. Dalam keputusan itu, siswa dianjurkan untuk melakukan proses belajar lewat online.

Belajar online itu tak lain agar mencegah penyebaran virus corona yang terjadi di Indonesia. Hal ini yang membuat Sekolah Dasar (SD) Inpres 184 Tanete, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros, Sulawesi selatan (Sulsel) membagi rapor bagi siswa di puncak gunung.

Pembagian rapor di puncak gunung dengan tujuan jauh dari keramaian desa. Langkah untuk mencegah tersebarnya virus corona yang semakin naik di Indonesia.

Para siswa ini harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk mencapai puncak. Jalur yang ekstrim memberi tantangan buat para siswa ini. Apalagi mereka masih kecil.

Kendati demikian, mereka terlihat sangat antusias menerima rapor di salah satu objek wisata baru yang ada di Maros itu. Siswa-siswi ini tidak keberatan acara penerimaan rapor dilangsungkan di puncak Gunung dengan ketinggian 1000 mdpl.

Para siswa-siswi ini merupakan warga asli dekat Gunung Sara tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan kondisi alam serta lingkungan sekitar.

Kepala sekolah Dasar (SD) Inpres 184 Tanete, Hamzah Thalib menjelaskan, ini merupakan salah satu langkah untuk menerima rapor di luar sekolah. Penerimaan rapor ini sekaligus jadi hiburan buat siswa.

“Di samping keluar alam terbuka, ini sekaligus hiburan, kalau disekolah jenuh karena selama ini pembagian rapornya di sekolah,” kata Hamzah beberapa waktu lalu.

Hamzah melanjutkan, totalnya ada sembilan siswa-siswi yang menerima rapor diatas puncak Gunung Sara. Mereka dari kelas 1 sampai 6.

“Mereka datang dengan orang tuanya kesini saat terima rapor,” tambahnya.

Siswa Hanya Sembilan Orang dan Tiga Ruang Kelas

Hamzah menyampaikan hanya terdapat sembilan siswa-siswi di sekolah yang ia pimpin saat ini. Tidak lebih dan tidak kurang, sembilan murid berasal dari
Dusun Tanete.

Hamzah membeberkan beberapa alasan mengapa siswanya semakin kurang. Pada hal dulu sangat banyak bahkan sampai ratusan.

“Tahun-tahun sebelum banyak, dan pernah 100 orang murid, tapi lama-kelamaan ikut merantau orang tua, jadi makin kurang,” terang Hamzah.

Sementara itu, tenaga pengajar ada sekitar empat orang, masing-masing tiga orang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan satu orang guru honorer. Mereka sangat antusias memberikan pelajaran kepada murid- muridnya.

“Kelas di SD Inpres ini hanya tiga ruangan. Tiga guru PNS dan satu guru honorer,” tambah dia.

Jaringan Full di Puncak Gunung Sara

Jika di sekolah dan rumah tinggal para siswa ini tak ada jaringan. Hal itu pula menjadi salah satu alasan untuk membagi rapor di puncak Gunung Sara.

“Jaringan disini juga bagus, jadi kami sengaja bagikan rapor disini. Sehingga siswa bisa mengaksesnya,” ucap dia.

Jika di Kota besar, siswa belajar melalui daring, berbeda dengan siswa yang ada di SD 184 Tanete, mereka menerapkan pola belajar Luring atau singkatannya Belajar diluar jaringan.

“Di kota besar ada proses belajar Daring, tapi kami belajar diluar jaringan. Jadi guru-gurunya mendatangi siswa atau siswanya datang sama guru,” cetus Hamzah.

Jaringan di Dusun Tanete, Desa Cenrana Kabupaten Maros tidak merata. Masyarakat di Desa ini baru merasakan jaringan diatas puncak Gunung. Hal ini pula yang membuat siswanya tak melakukan proses belajar Daring.