Tinjau Tambak Udang ‘Sitto’ di Pinrang, Gubernur Sulsel: Lestarikan Warisan Leluhur

Gubernur Sulsel saat tinjau tambak udang Windu di kabupaten Pinrang

BERITA.NEWS,Makassar-Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (NA) panen udang sitto (windu) di kawasan budidaya udang ramah lingkungan di Desa Waetuoe, Kelurahan Lanrisang, Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang, Senin (16/11/2020).

“Saya kira kita punya kewajiban untuk menjaga keunggulan kita, Pinrang ini adalah dari dulu sampai sekarang sebagai penghasil udang sitto (windu) ada satu hal yang kita jaga jangan sampai petani kita meninggalkan udang sitto dan beralih ke vaname,” ucapnya.

NA mengatakan budidaya udang sitto merupakan warisan leluhur yang musti terus dijaga dan dilestarikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kadang petambak kita ini di Sulsel setahun bisa dua hingga tiga kali umroh. Satu kali panen bisa menaikkan satu keluarga umroh, haji dan sebagainya,” katanya.

Baca Juga :  PSN Bendungan Karalloe Tahap II Capai 80 Persen, Dianggarkan Rp 689 Miliar

Menurutnya, masuknya udang vaname memiliki dampak yang besar, tetapi tidak signifikan pada peningkatan kesejahteraan petani tambak.

“Kita agak ragu karena begitu besar pengaruh vaname, tetapi tidak signifikan pada peningkatan kesejahteraan. Oleh karena itu vaname tetap jalan dengan skala bisnis besar, sitto kita harus kita dorong sebagai pertambakan tradisional,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Pinrang, Irwan Hamid, menuturkan udang windu adalah komoditas unggulan selain rumput, laut, beras adalah komoditas ekspor dan penyangga ketahanan pangan nasional yang dapat untuk dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan dan upaya pemulihan ekonomi.

“Bapak Gubernur sekarang berada di salah satu sentra pengembangan udang windu di Kabupaten Pinrang yang disebut Kawasan Budidaya Udang Windu Ramah Lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga :  Tinjau Proyek Bendungan Karalloe, Wagub Sulsel: Tahun Depan Selesai

Diketahui, Pinrang memiliki luas areal tambak 15.026,20 hekatere, khusus di Kecamatan Lanrisang luasnya 1.588,33 hektare yang meliputi dua blok pengembangan, yakni blok Lanrisang 523,23 hektare dan blok Waetuoe seluas 1.065,15 hektare.

“Kawasan ini memproduksi udang windu jenis echo-shrimp atau ramah lingkungan dengan kualitas premium yang diekspor ke Jepang,” sebutnya.

 

Andi Khaerul